Sunday, March 24, 2013

HUBUNGAN ANTARA UMUR DAN PENDIDIKAN IBU DENGAN KEJADIAN PRE-EKLAMPSIA BERAT PADA IBU BERSALIN DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT Dr. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG TAHUN 2007


BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Angka kematian ibu (AKI) berguna untuk menggambarkan status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan serta tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, melahirkan dan nifas. Penyebab tingginya angka kematian ibu juga dapat disebabkan karena faktor non medis yaitu faktor ekonomi, sosial budaya, demografi serta faktor agama. Sebagai contoh banyak kaum ibu yang menganggap kehamilan sebagai peristiwa alamiah biasa, padahal kehamilan merupakan peristiwa yang luar biasa sehingga perhatian terhadap kesehatan reproduksi dan pemeriksaan kesehatan selama kehamilan juga menjadi sebab tingginya kematian ibu selain pelayanan dan akses mendapatkan pelayanan kesehatan yang buruk (Amiruddin, 2007).
Menurut data World Health Organization (WHO), sebanyak 99% kematian ibu akibat persalinan terjadi di negara-negara berkembang. Rasio kematian ibu                    di negara-negara berkembang merupakan yang tertinggi dengan 450 kematian ibu di sembilan negara maju dan 51 negara persemakmuran. Selain itu lebih dari 6 juta wanita diseluruh dunia dan 270.000 di USA mengalami pre-eklampsia setiap tahunnya (WHO, 2007).
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia saat ini masih jauh dari target yang harus dicapai pada tahun 2015, sesuai dengan kesepakatan sasaran pembangunan millenium. Hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003, AKI di Indonesia menunjukkan angka 307/100.000 kelahiran hidup, jauh di atas target AKI untuk Millenium Development Goal (MDG) yang ditetapkan WHO sebesar 102/100.000 kelahiran hidup (Depkes RI, 2007).
Sedikitnya 18.000 ibu meninggal setiap tahunnya di Indonesia karena kehamilan dan persalinan. Hal itu berarti setiap setengah jam seorang perempuan meninggal karena kehamilan dan persalinan. Tingginya angka kematian ibu itu menempatkan Indonesia pada urutan teratas di ASEAN dalam hal tersebut. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001 menyebutkan angka kematian ibu               di Indonesia 396/100.000 kelahiran hidup, jumlah itu meningkat dibandingkan dengan hasil survei 1995 yaitu 373/100.000 kelahiran hidup (Siswono, 2003).
Angka kematian ibu di Indonesia masih sangat tinggi dibandingkan negara-negara ASEAN. Pada tahun 1994, angka kematian ibu di Indonesia sebesar 390/100.000 kelahiran hidup, tahun 1995 menurun menjadi 373/100.000 kelahiran hidup (SDKI). AKI di kota Palembang berdasarkan laporan Indikator Database 2005 UNFPA 6th Country Programme adalah 317/100.000 kelahiran hidup lebih rendah dari AKI Propinsi Sumatera Selatan sebesar 467/100.000 kelahiran          hidup. Jumlah kematian ibu tahun 2006 di kota Palembang sebanyak 15 orang dengan penyebabnya yaitu Eklampsia 2 orang (13,3%), HPP 3 orang (20%), Ca pharing 1 orang (6,6%), stroke 1 orang (6,6%), gagal ginjal 1 orang (6,6%), placenta acreta 1 orang (6,6%), emboli air ketuban 2 orang (13,3%), post sectio cesarea 1 orang (6,6%), kelainan jantung 1 orang (6,6%) dan lain-lain 2 orang (13,3%) (Profil Kesehatan Kota Palembang, 2006).
Dalam pelayanan obstetri, selain Angka Kematian Maternal (AKM) terdapat Angka Kematian Perinatal (AKP) yang dapat diasumsikan sebagai perameter keberhasilan pelayanan. Namun, keberhasilan menurunkan AKM di negara-negara maju saat ini menganggap AKP merupakan parameter yang lebih baik dan lebih peka untuk menilai kualitas pelayanan kebidanan. Hal ini mengingat kesehatan dan keselamatan janin dalam rahim sangat tergantung pada keadaan serta kesempurnaan bekerjanya sistem dalam tubuh ibu yang mempunyai fungsi untuk menumbuhkan hasil konsepsi dan mudigah menjadi janin cukup bulan. Salah satu penyebab kematian perinatal adalah pre-eklampsia dan eklampsia (Sudhaberata, 2000).
Di Indonesia pre-eklampsia berat dan eklampsia merupakan penyebab kematian ibu, berkisar 1,5% sampai 25% sedangkan kematian bayi antara 45% sampai 50%, penyebab kematian ibu adalah perdarahan otak, payah jantung dan payah ginjal dan aspirasi cairan lambung atau, edema paru-paru. Sedangkan penyebab kematian bayi adalah asfiksia intra uterine dan persalinan prematuritas (Manuaba, 1998).
Pre-eklampsia - eklampsia merupakan kesatuan penyakit yang masih merupakan sebab utama kematian ibu dan sebab kematian perinatal yang tinggi          di Indonesia sehingga diagnosis dini pre-eklampsia yang merupakan pendahuluan eklampsia serta penatalaksanaannya harus diperhatikan dengan seksama, pemeriksaan antenatal yang teratur dan secara rutin mencari tanda pre-eklampsia yaitu hipertensi, edema dan proteinuria sangat penting dalam usaha pencegahan disamping pengendalian faktor-faktor predisposisi lainnya (Sudinaya, 2003).
Ada yang melaporkan angka kejadian pre-eklampsia - eklampsia sebanyak 6% dari seluruh kehamilan dari 12% pada kehamilan primigravida, menurut beberapa penulis lain dilaporkan sekitar 3-10% lebih banyak dijumpai pada primigravida dari pada multigravida, terutama primigravida usia muda. Faktor-faktor predisposisi untuk terjadinya pre-eklampsia adalah molahidatidosa, diabetes melitus, kehamilan ganda, hidrops fetalis, obesitas dan umur yang lebih dari 35 tahun (Manuaba, 1998).
Berdasarkan hasil penelitian I Putu Sudinaya di RSU Tarakan Periode 1 Januari-Desember 2000 dari 1.431 persalinan terdapat 74 kasus pre-eklampsia atau eklampsi (5,1%). Pre-eklampsia 61 kasus (4,2%) dan eklampsia 13 kasus (0,9%). Kasus pre-eklampsia dan eklampsi terutama dijumpai pada usia 20-24 tahun dan primigravida (Sudinaya, 2003).
Tingginya kejadian pre-eklampsia-Eklampsia di negara-negara berkembang, dihubungkan dengan masih rendahnya status sosial ekonomi dan tingkat pendidikan yang dimiliki kebanyakan masyarakat. Kedua hal tersebut saling terkait dan sangat berperan dalam menentukan tingkat penyerapan dan pemahaman terhadap berbagai informasi (Masalah kesehatan yang timbul baik pada dirinya ataupun untuk lingkungan sekitarnya) (Sudhaberata, 2000).
Berdasarkan hal-hal di atas, penulis tertarik untuk mengangkat masalah tersebut dalam penelitian yang berjudul ”Hubungan antara Umur dan Pendidikan Ibu dengan Kejadian Pre-eklampsia Berat Pada Ibu Bersalin di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2007”.
1.2         Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan antara umur dan pendidikan ibu dengan kejadian pre-eklampsia berat pada ibu bersalin di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2007?
1.3         Tujuan Penelitian
1.3.1   Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara umur dan pendidikan ibu dengan kejadian pre-eklampsia berat pada ibu bersalin di Rumah Sakit Umum Pusat                 Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2007.
1.3.2   Tujuan Khusus
1.      Diketahuinya distribusi frekuensi umur ibu dengan kejadian                        pre-eklampsia berat di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2007.
2.      Diketahuinya distribusi frekuensi pendidikan ibu dengan kejadian                  pre-eklampsia berat di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2007.
3.      Diketahuinya hubungan umur ibu dengan kejadian pre-eklampsia           berat di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2007.
4.      Diketahuinya hubungan pendidikan ibu dengan kejadian pre-eklampsia berat di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2007.
1.4         Manfaat Penelitian
1.4.1   Bagi Institusi Kesehatan (Rumah Sakit)
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi rumah sakit setempat dalam menentukan kebijakan untuk mengembangkan pelayanan kesehatan ibu terutama terhadap kejadian pre-eklampsia berat.
1.4.2   Bagi Petugas Kesehatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang hubungan umur dan pendidikan ibu bersalin dengan kejadian pre-eklampsia berat.
1.4.3   Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi, pengetahuan dan sumbangan pikiran serta referensi bagi perpustakaan Akademi Kebidanan Budi Mulia Palembang pada khususnya mengenai hubungan antara umur dan pendidikan ibu dengan kejadian pre-ekalampsia berat pada ibu bersalin di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2007.
1.4.4   Bagi Penulis
Dengan melakukan penelitian, peneliti lebih memahami dan mengerti tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian pre-eklampsia berat.
1.5         Ruang Lingkup
Pada penelitian ini penulis mencoba membatasi hanya pada faktor umur dan pendidikan ibu dengan menggunakan metode survey analitik. Adapun tempat dan waktu penelitian direncanakan di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang ditahun 2008.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1         Konsep Dasar Pre-Eklampsia Berat
2.1.1   Definisi Pre-Eklampsia
Pre-eklampsia adalah suatu penyakit yang muncul pada awal kehamilan dan berkembang secara perlahan dan hanya akan menunjukkan gejala jika kondisi semakin memburuk (Helen Varney, 2007).
Pre-eklampsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan (Mansjoer, 2001).
Pre-eklampsia berat adalah penyakit dengan gejala/tanda hipertensi                  > 160/110 mmHg disertai dengan proteinuria dan adanya keluhan sakit kepala, gangguan penglihatan serta adanya penimbunan cairan di paru-paru yang ditandai dengan sesak napas serta pucat pada bibir dan telapak tangan akibat kekurangan oksigen (Warta Medika, 2006).
2.1.2   Etiologi Pre-Eklampsia
Apa yang menjadi penyebab pre-eklampsia dan eklampsia sampai sekarang belum diketahui secara pasti. Telah terdapat banyak teori yang mencoba menerangkan sebab penyakit tersebut, akan tetapi tidak ada yang dapat memberi jawaban yang memuaskan (Winkjosastro, 2005).
Sampai sekarang etiologi pre-eklampsia belum diketahui. Membicarakan patofisiologinya tidak lebih dari ”mengumpulkan” temuan-temuan fenomena yang beragam. Namun pengetahuan tentang temuan yang beragam inilah kunci utama kesuksesan penanganan pre-eklampsia. Sehingga pre-eklampsia atau eklampsia disebut sebagai ”the disease of many theories in obstetrics”. Adapun faktor predisposisinya yaitu :
1.      Primigravida atau nullipara, terutama pada umur reproduksi ekstrem, yaitu remaja dan umur 35 tahun ke atas.
2.      Multigravida dengan kondisi klinis :
  1. Kehamilan ganda dan hidrops fetalis
  2. Penyakit vaskuler termasuk hipertensi esensial kronik dan diabetes melitus.
  3. Penyakit-penyakit ginjal.
3.      Hiperplasentosis : molahidatidosa, kehamilan ganda, hidrops fetalis bayi besar.
4.      Riwayat keluarga pernah pre-eklampsia atau eklampsia.
5.      Obesitas dan hidramnion.
6.      Gizi yang kurang dan anemia.
7.      Kasus-kasus dengan kadar asam urat yang tinggi, defisiensi kalsium, defisiensi asam lemak tidak jenuh, kurang antioksidans (Hasdiana Hasan, 2008).
2.1.3   Klasifikasi Pre-eklampsia
Pre-eklampsia digolongkan ke dalam pre-eklampsia ringan dan pre-eklampsia berat dengan gejala dan tanda sebagai berikut :
1.      Pre-eklampsia Ringan
a.       Tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih yang diukur pada posisi berbaring, terlentang atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih, atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih. Cara pengukuran sekurang-kurangnya pada 2 kali pemeriksaan dengan jarak pemeriksaan 1 jam.
b.      Edema umum, kaki, jari, tangan dan muka atau kenaikan berat badan 1 kg atau lebih per minggu.
c.       Proteinuria kuantitatif 0,3 gr atau lebih per liter, kuantitatif 1 (+1) atau positif 2 (+2) pada urin kateter atau midstream  (Mochtar, 1998).
2.      Pre-eklampsia Berat
a.       Tekanan darah 160/110 mmHg.
b.      Oliguria, urin kurang dari 400 cc/24 jam.
c.       Proteinuria lebih dari 3 gr/liter.
d.      Keluhan subjektif :
1)      Nyeri epigastrium
2)      Gangguan penglihatan
3)      Nyeri kepala
4)      Edema paru dan sianosis
5)      Gangguan kesadaran
(Manuaba, 1998)
2.1.4   Gejala-Gejala Pre-Eklampsia Berat
Pre-eklampsia berat dapat dikatakan bila ditemukan gejala-gejala sebagai berikut :

1.      Tekanan darah sistolik ³ 160 mmHg atau diastolik ³ 110 mmHg.
2.      Proteinuria ³ 5 g/24 jam atau ³ 3 pada tes celup.
3.      Oliguria (< 400 ml dalam 24 jam).
4.      Sakit kepala hebat atau gangguan penglihatan.
5.      Nyeri epigastrium dan ikterus.
6.      Edema paru atau sianosis.
7.      Trombositopenia.
8.      Pertumbuhan janin terhambat.
(Mansjoer, 2001)
2.1.5   Diagnosis Pre-Eklampsia Berat
Kriteria diagnosis pre-eklampsia ditentukan bila dijumpai satu atau lebih tanda/gejala berikut :
1.      Tekanan darah 160/110 mmHg.
2.      Proteinuria lebih 5 gram/24 jam atau kualitatif 3+/4+.
3.      Oliguria 500 ml/24 jam.
4.      Nyeri kepala frontal atau gangguan penglihatan.
5.      Nyeri epigastrium.
6.      Edema paru atau sianosis.
7.      HELLP syndrome (H = Hemolysis, EL = Elvated Liver Enzymes, LP = Low Platelet Counts).
(Hasdiana Hasan, 2008).

2.1.6   Pemeriksaan Pre-Eklampsia Berat
1.      Kadar enzim hati meningkat disertai ikterus.
2.      Perdarahan pada retina.
3.      Trombosit kurang dari 100.000/mm
2.1.7   Penanganan Pre-Eklampsia Berat
1.      Pre-eklampsia berat dengan kehamilan > 37 minggu
a.  Pengobatan medisinalis : Rawat :
1)      Istirahat mutlak/isolasi.
2)      Diet rendah garam.
3)      Suntikan sulfas magnesikus
4)      Loading dose : 4 g 20% iv. (20% dalam 20 ml) selama 4-5 menit (1 g/menit), dan 8 g 40% dalam 10 ml im., 4 g di bokong kiri dan 4 g di bokong kanan (sebaiknya dicampur dengan lidonest untuk mengurangi rasa sakit), yang diteruskan dengan 4 g tiap 4 jam (maintenance dose).
5)      Infus dextrose 5% 1 liter diselingi dengan Ringer laktat 500 ml (2:1).
6)      Kateter menetap.
7)      Empat jam setelah pemberian MgSO4 tekanan darah dikontrol, jika tekanan darah sistolik 180 mmHg atau diastolik 120 mmHg diberikan suntikan Catapres 1 ampul im. Tekanan darah tidak boleh diturunkan secara drastis, sebaiknya tekanan diastolik berkisar antara 90-100 mmHg.
8)      Diuretikum tidak diberikan kecuali jika ada : edema paru gagal jantung kongestif edema anasarka. Syarat pemberian MgSO 4 :
-          Hams tersedia antidotum MgSO 4, yaitu Calcium Gluconas 10% diberikan iv, pelan-­pelan (3 menit).
-          Refleks patella (+) kuat.
-          Frekuensi pernafasan > 16 x/menit.
-         Produksi urine > 100 ml dalam 4 jam sebelumnya (0,5 ml/ kgbb/jam).
-         Pemberian MgSO 4 sampai 20 gr tidak perlu mempertimbangkan diuresis.
b. Pengobatan obstetrik :
1)     Belum inpartu :
-         Dilakukan induksi persalinan segera sesudah pemberian MgSO 4 kedua.
-         Dilakukan amniotomi dan drip oksitosin dengan syarat : pelvik skor Bishop 5.
-         SC dilakukan bila :
·        Syarat drip tidak dipenuhi.
·        12 jam sejak drip oksitosin anal (belum lahir) Pada primi cenderung SC.
2)     Inpartu :
-         Fase laten : 6 jam tidak masuk fase aktif, dilakukan SC.
-         Fase aktif :
·        Amniotomi, kalau perlu drip oksitosin.
·        Bila 6 jam pembukaan belum lengkap, dilakukan SC.
3)     Kala II dipercepat, bila syarat partus pervaginam dipenuhi, dilakukan EV/EF.
4)     Persalinan harus sudah selesai kurang dari 12 jam setelah dilakukan amniotomi dan drip oksitosin; jika dalam 6 jam tidak menunjukkan kemajuan yang nyata, pertimbangkan SC.
5)      Ergometrin tidak boleh diberikan kecuali ada HPP oleh atonia uteri.
6)      Pemberian MgSO 4 dapat diberikan sampai 24 jam pasca persalinan kalau tekanan darah masih tinggi. MgSO 4 dihentikan bila :
-          Ada tanda-tanda intoksikasi.
-          Dalam 8 jam pasca persalinan sudah normotensif.
Catatan :
Pemberian pertama MgSO4 sampai 20 gram (pemberian ke 3) tidak perlu menilai diuresis.
2.      Pre-eklampsia berat dengan kehamilan < 37 minggu tanpa tanda impending eklampsia
a.       Pengobatan medisinal
Pemberian MgSO 4 selama 1 x 24 jam dimulai dengan loading dose yang diteruskan dengan suntikan 4 g MgSO 4 tiap 4 jam.
b.      Pengobatan obstetrik
Kalau setelah 24 jam tidak terjadi perbaikan maka dilakukan terminasi kehamilan. MgSO 4 dihentikan bila sudah dicapai tanda-tanda pre-eklamsi ringan. Selama perawatan konservatif, observasi dan evaluasi sama seperti perawatan pre-eklamsia berat 37 minggu, hanya di sini penderita boleh pulang jika selama 3 hari perawatan tetap dalam keadaan pre-eklampsia ringan (Hasdiana hasan,2008)
2.1.8   Pencegahan Pre-Eklampsia Berat
Untuk mencegah kejadian pre-eklampsia berat dapat dilakukan nasehat tentang dan bekaitan dengan :
1.      Diet Makanan
Makanan tinggi protein, tinggi karbohidrat, cukup vitamin dan rendah lemak. Kurangi garam apabila berat badan bertambah atau edema. Makanan berorientasi pada menu gizi seimbang. Untuk meningkatkan jumlah protein dengan tambahan satu butir telur setiap hari.
2.      Cukup istirahat
Istirahat yang cukup pada hamil semakin tua dalam arti bekerja sepenuhnya dan disuaikan dengan kemampuan. Lebih banyak duduk atau berbaring ke arah punggung janin sehingga aliran darah menuju plasenta tidak mengalami gangguan.
3.      Pengawasan antenatal (hamil)
Bila terjadi perubahan perasaan dan gerak janin dalam rahim segera datang ke tempat pemeriksaan. Keadaan yang memerlukan perhatian :
a.       Uji kemungkinan pre-eklampsia :
-          Pemeriksaan tekanan darah atau kenaikannya.
-          Pemeriksaan tinggi fundus uteri.
-          Pemeriksaan kenaikan berat badan atau edema.
-          Pemeriksaan protein dalam urin.
-          Kalau mungkin dilakukan pemeriksaan fungsi ginjal, fungsi hati, gambaran darah umum dan pemeriksaan retina mata.
b.      Penilaian kondisi janin dalam rahim
-          Pemantauan tinggi fundus uteri.
-          Pemeriksaan janin : gerakan janin dalam rahim, denyut jantung janin, pemantauan air ketuban.
Dalam keadaan yang meragukan, maka merujuk penderita merupakan sikap yang terpilih dan terpuji  (Manuaba,1998)
2.1.9   Komplikasi Pre-Eklampsia Berat
Komplikasi yang biasa terjadi antara lain :
1.      Atonia uteri (uterus couvelaire).
2.      Sindrom HELLP (Hemplysis, Elvated Liver Enzymes, Low Platelet Count).
3.      Ablasi retina.
4.      KID (Kongulasi Intravaskuler Disemanata).
5.      Gagal ginjal.
6.      Pendarahan otak.
7.      Edema paru.
8.      Gagal ginjal.
9.      Syok dan kematian
Komplikasi pada janin berhubungan dengan akut atau kronisnya insufisiensi uteroplasental, misalnya pertumbuhan janin terhambat dan prematuritas  (Mansjoer, 2001).
2.1.10    Faktor-Faktor Predisposisi
Faktor-faktor yang berperan pada kematian maternal karena eklampsia :
a.       Pengetahuan yang rendah sehingga seringkali penderita dibawa ke Rumah Sakit sudah dalam keadaan kejang.
b.      Persalinan yang ditolong oleh dukun menyebabkan penderita eklampsia terabaikan sehingga dirujuk dalam keadaan gawat.
c.       Transportasi, adanya kendala transportasi terutama dari daerah terpencil.
d.      Kurangnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kehamilannya ke bidan atau ke dokter.
(Sudinaya, 2003).
2.2  Faktor-Faktor yang Behubungan dengan Pre-Eklampsia Berat
2.2.1   Faktor yang diteliti
1.      Umur
Insiden tinggi ditemukan pada primigravida muda, meningkat pada primigravida tua, pada wanita hamil berusia kurang dari 25 tahun insiden > 3 kali lipat. Pada wanita hamil lebih dari 35 tahun dapat terjadi hipertensi laten (Josoprawiro, dkk, 2008).
2.      Pendidikan
Dalam penelitian yang pernah dilakukan Ketut Sudhaberata di RSU Tarakan Makasar di dapat bahwa dari sampel yang ada, hanya 20,3% yang tidak berpendidikan. Hal ini berbanding lurus dengan data kunjungan ANC yang didapatkan yaitu 54,8% melakukan kunjungan ANC sesuai persyaratan minimal, oleh karena itu tingginya kejadian pre-eklampsia dan Eklampsia di negara-negara berkembang dihubungan dengan masih rendahnya status sosial ekonomi dan tingkat pendidikan yang dimiliki kebanyakan masyarakat (Sudhaberata, 2000).
2.2.2   Faktor Yang Tidak Diteliti
1.      Paritas
Paritas adalah jumlah anak yang telah dilahirkan oleh seorang ibu baik lahir hidup maupun lahir mati (Amiruddin, 2004).
Untuk paritas, angka kejadian tinggi pre-eklampsia pada primigravida tua maupun muda sedangkan untuk primigravida tua mempunyai resiko lebih tinggi untuk terjadinya pre-eklampsia berat (Josoprawiro, dkk, 2008).
2.      Molahidatidosa
Pada molahidatidosa diduga degenerasi trofoblas berlebihan berperan menyebabkan pre-eklampsia. Pada kasus mola, hipertensi          dan proteinuria terjadi lebih dini atau pada usia kehamilan muda,             dan ternyata hasil pemeriksaan patologi ginjal juga sesuai dengan pre-eklampsia (Josoprawiro, ddk, 2008).
3.      Hipertensi
Tinggi-rendahnya tekanan darah dalam berbagai referensi digunakan sebagai salah satu indikator tingkat keparahan dari hipertensi akibat kehamilan, makin tinggi tekanan darah penderita makin                parah tingkat hipertensi akibat kehamilan yang diderita (Hasdiana Hasan, 2008).

No comments:

Post a Comment

Bidan dan Perawat

Google+ Followers