Saturday, March 23, 2013

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN HYPEREMESIS GRAVIDARUM PADA IBU YANG PERNAH DIRAWAT INAP DI ZAAL KEBIDANAN RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG TAHUN 2007


BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di negara-negara berkembang. Di negara-negara miskin sekitar 25-50% kematian wanita usia subur disebabkan hal yang berkaitan dengan kehamilan. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama mortalitas wanita muda pada masa puncak produktivitas (Saifudin, 2006: 4). Pada tahun 2005 World Health Organization (WHO) memperkirakan 536.000 perempuan meninggal dunia akibat langsung dari komplikasi kehamilan dan persalinan (www.myhound.com, 2007).
Salah satu komplikasi akibat kehamilan tersebut adalah hyperemesis gravidarum yang ditandai dengan mual dan muntah yang berlebihan. Insiden hyperemesis gravidarum di dunia telah diperkirakan terjadi pada 1-2% wanita hamil (Wannabe, 2006).
Di Indonesia, dari hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) dan data Biro Pusat Statistik (BPS) didapatkan angka kematian ibu sebesar 307 per 100 ribu kelahiran hidup. Sedangkan target AKI yang ingin dicapai pada tahun 2010 sebesar 125 per 100 ribu kelahiran hidup (Azwar, 2003).
Salah satu penyebab kematian tersebut adalah komplikasi kehamilan yang diantaranya hyperemesis gravidarum, insiden ini terjadi pada 2 per 1000 kelahiran hidup (Mochtar, 1998: 195).
Hyperemesis gravidarum dapat dialami mayoritas ibu hamil. Menurut Indra Anwar, dokter Rumah Sakit Bunda Jakarta sekitar 50-70% ibu hamil mengalaminya dan dikatakan wajar jika dialami pada usia kehamilan 8-12 minggu dan semakin berkurang secara bertahap hingga akhirnya berhenti di usia kehamilan 16 minggu. Namun tidak sedikit ibu hamil yang masih mengalami mual-muntah sampai trimester ketiga keluhan mual-muntah ini dikatakan berat jika selalu muntah setiap minum atau makan (Imam, 2008).
Di Sumatera Selatan Angka Kematian Ibu (AKI) juga masih tinggi, pada tahun 2006 lalu menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) AKI Sumatera Selatan mencapai 424 per 100.000 kelahiran hidup (Ardiansyah, 2006) dan di kota Palembang sendiri berdasarkan laporan indikator database 2005 UNFPA tercatat 317 per 100.000 kelahiran hidup lebih rendah dari AKI Sumsel, sedangkan AKI Nasional hanya 307 per 100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut masih berada jauh di atas target Indonesia Sehat 2010 yang menargetkan penurunan AKI menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup (Depkes, 2006).
Hyperemesis gravidarum terjadi pada 60-80% primigravida dan 40-60% multigravida. Satu diantara seribu kehamilan, gejala-gejala ini terjadi lebih berat, gejala mual dan muntah yang berlangsung sampai kehamilan 4 bulan dimana pekerjaan sehari-hari menjadi terganggu dan keadaan umum menjadi berat dan buruk (Wiknjosastro, 2005: 275).
Hyperemesis gravidarum dapat membahayakan jiwa ibu maupun janin, bila tidak segera diatasi akan terjadi kerusakan pada organ-organ tubuh ibu dan akan terjadi dehidrasi dan kekurangan cairan. Apabila keadaan ibu parah akan mengakibatkan pertumbuhan janin terhambat. Untuk mengatasi keadaan seperti di atas ibu harus menjalani perawatan di rumah sakit. Tujuan perawatan tersebut untuk segera mengembalikan kondisi ibu menjadi normal lagi (Wannabe, 2006).
Berdasarkan data dari Medical Record Rumah Sakit Umum Pusat                   Dr. Mohammad Hoesin Palembang, angka kejadian ibu yang mengalami hyperemesis gravidarum pada tahun 2005 terdapat 47 orang dari 675 orang ibu hamil, pada tahun 2006 terdapat 54 orang dari 854 ibu hamil. Sedangkan pada tahun 2007 terdapat ……. orang dari …… ibu hamil yang dirawat inap di instalasi kebidanan.
Beberapa penelitian melaporkan bahwa banyak faktor yang berhubungan dengan hyperemesis gravidarum diantaranya hamil pada usia muda, hamil pertama kalinya, kehamilan ganda/kembar, molahidatidosa dan pernah mengalami hyperemesis gravidarum sebelumnya (Wannabe, 2006).
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti “Faktor-faktor yang berhubungan dengan hyperemesis gravidarum pada ibu yang pernah dirawat inap di zaal kebidanan Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2007”.
1.2         Rumusan Masalah
Faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan hyperemesis gravidarum pada ibu yang pernah dirawat inap di zaal kebidanan Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2007?
1.3         Tujuan Penelitian
1.3.1   Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara umur ibu, pendidikan, pekerjaan, usia kehamilan dan gravida dengan hyperemesis gravidarum pada ibu yang pernah dirawat inap di zaal kebidanan Rumah Sakit Umum Pusat                  Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2007.
1.3.2   Tujuan Khusus
1.      Diketahuinya hubungan antara umur ibu dengan Hyperemesis Gravidarum pada ibu yang pernah dirawat inap di Zaal Kebidanan Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang              tahun 2007.
2.      Diketahuinya hubungan antara pendidikan dengan Hyperemesis Gravidarum pada ibu yang pernah dirawat inap di Zaal Kebidanan Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang              tahun 2007.
3.      Diketahuinya hubungan antara pekerjaan dengan Hyperemesis Gravidarum pada ibu yang pernah dirawat inap di Zaal Kebidanan Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang            tahun 2007.
4.      Diketahuinya hubungan antara usia kehamilan dengan Hyperemesis Gravidarum pada ibu yang pernah dirawat inap di Zaal Kebidanan Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang                tahun 2007.
5.      Diketahuinya hubungan antara gravida dengan Hyperemesis Gravidarum pada ibu yang pernah dirawat inap di Zaal Kebidanan Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang              tahun 2007.
1.4         Manfaat Penelitian
1.4.1   Bagi Tenaga Kesehatan (Rumah Sakit)
Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan bagi rumah sakit untuk lebih meningkatkan mutu dan upaya pelayanan bagi ibu-ibu hamil dengan hyperemesis gravidarum.
1.4.2   Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi/kepustakaan untuk pengetahuan mahasiswa Akademi Kebidanan Budi Mulia Palembang.
1.4.3        Bagi Peneliti
Untuk menambah wawasan,pengalaman dan pengetahuan  peneliti menganai Hyperemesis Gravidarum dan dapat mengaplikasikan metodologi penelitian dan biostatistik yang diperoleh selama proses belajar.
1.5         Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini adalah semua ibu hamil yang pernah dirawat di instalasi rawat inap zaal kebidanan Rumah Sakit Umum Pusat  Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2007. Peneliti mengambil variabel umur ibu, pendidikan, pekerjaan, usia kehamilan dan gravida karena berdasarkan hasil pengamatan peneliti. Faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi kejadian hyperemesis gravidarum.  Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu melalui survei analitik dengan pendekatan cross sectional yang menggunakan data sekunder.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1         Pengertian Hyperemesis Gravidarum
2.1.1   Definisi
Hyperemesis Gravidarum adalah mual muntah yang berlebihan berlangsung sampai 4 bulan sehingga pekerjaan sehari-hari menjadi terganggu dan keadaan umum menajdi buruk (Wiknjosastro, 2005 : 275).
Hyperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan sehingga menimbulkan gangguan aktivitas sehari-hari dan bahkan dapat membahayakan hidupnya (Manuaba, 2001 : 397).
Hyperemesis Gravidarum adalah mual muntah yang terjadi sampai umur kehamilan 20 minggu, muntah begitu hebat dimana segala apa yang dimakan diminum dimuntahkan sehingga mempengaruhi keadaan umum dan pekerjaan sehari-hari, berat badan menurun, dehidrasi dan terdapat aseton dalam urin bukan karena penyakit seperti appedisitis, prelititis dan sebagainya (Hafied dkk, 2007).
Hyperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan yang menimbulkan dehidrasi dan kelaparan (Widyana Alit, 2007).
2.1.2   Etiologi
Kejadian Hyperemesis Gravidarum belum diketahui dengan pasti, tetapi beberapa faktor predisposisi dan faktot lain yang telah ditemukan oleh beberapa penulis sebagai berikut :
1.        Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida, molahidatidosa dan kehamilan ganda, frekuensi yang tinggi pada molahidatidosa dan kehamilan ganda menimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan karena keadaan tersebut hormon khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan.
2.        Masuknya vili khorralis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan ini merupakan faktor organik.
3.        Alergi sebagai salah satu respon dari jaringan ibu terhadap anak, juga disebut sebagai salah satu faktor organik.
4.        Faktor psikologik
Hubungan antara faktor psikologik dengan Hyperemesis Gravidarum, pada penyakit ini rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan takut terhadap tanggung jawab seorang ibu, menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai pelarian kesukaran hidup (Wiknjosastro, 2005 : 275-276).
2.1.3   Patologi
Bedah mayat pada wanita yang meninggal dunia karena Hyperemesis Gravidarum menunjukkan kelainan pada berbagai alat dalam tubuh yang juga dapat ditemukan pada malnutrisi oleh berbagai sebab.
1.      Hati
Hyperemesis Gravidarum tanpa komplikasi hanya ditemukan digenerasi lemak tanpa nekrosis, kelainan lemak ini tampaknya tidak menyebabkan kematian dan dianggap sebagai akibat muntah tang terus-menerus.

2.      Jantung
Jantung menjadi lebih kecil dari pada biasanya dan beratnya atropi ini           sejalan dengan lamanya penyakit, kadang-kadang ditemukan perdarahan         sub-endokardial.
3.      Otak
Adakalanya terdapat bercak-bercak perdarahan pada otak dan kelainan seperti esefa lopati wernike dapat djumpai (dilatasi kapiler dan perdarahan kecil-kecil di daerah karpora maimalaria vertrikel ketiga dan keempat.
4.      Ginjal
Tampak pucat dan degenerasi lemak dapat ditemukan pada tumbuli kontorti (Wiknjosastro, 2005 : 276).
2.1.4   Patofisiologi
Perasaan mual akibat kadar estrogen meningkat, mual dan muntah                  terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi, hiponatremia, hipokloremia, penurunan klorida urine selanjutnya terjadi hemokosentrasi yang mengurangi perfusi darah ke jaringan dan menyebabkan oksidasi lemak tidak sempurna sehingga terjadi ketosis. Hipokelemia akibat muntah dan ekresi yang berlebihan selanjutnya menambah frekuensi muntah dan merusak hepar. Selaput klendir usofagus dan lambung dapat robek sehingga terjadi perdarahan gastrointestuna (Masnjoer, 1999 : 259).
Ada yang menyatakan bahwa, perasaan mual dan muntah akibat dari meningkatnya kadar estrogen oleh karena ini terjadi pada trrimester pertama, pengaruh fisiologik hormon estrogen ini tidak jelas, mungkin berasal dari sistem saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan lambung. Penyesuaian terjadi pada kebanyakan wanitah hamil meskipun demikian mual dan muntah dapar berlangsung berbulan-bulan.
Hyperemesis Gravidarum merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda, bila terjadi terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan                 tidak seimbang elektrolit dengan alkalosis hipokloremia (Wiknjosastro,          2005 : 276-277).
2.1.5   Gejala dan Tanda
Gejala Hyperemesis Gravidarum secara klinis dapat dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu :
1.      Hyperemesis Gravidarum tingkat pertama
-          Muntah berlangsung terus-menerus
-          Nafsu makan berkurang
-          Berat badan menurun
-          Nyeri di daerah epigastrium
-          Tekanan darah meningkat dan nadi meningkat
-          Ketegangan kulit menurun
-          Lidah mengering
-          Mata tampak cekung
2.      Hyperemesis Gravidarum tingkat kedua
-          Penderita tampak lebih lemah
-          Gejala dehidrasi makin tampak, mata tampak cekung, turgor kulit makin kurang, lidah kering dan kotor
-          Tekanan darah menurun dan nadi meningkat
-          Mata ikterik
-          Gejala hemokosentrasi makin tampak, kadar aseton dalam urin meningkat.
-          Terjadinya gangguan buang air besar
-          Mulai tampak gejala gangguan kesadaran, menjadi aptis.
-          Nafas berbau aseton
3.      Hyperemesis Gravidarum tingkat ketiga
Ø  Muntah berkurang bahkan berhenti
Ø  Keadaan umum wanita hamil makin menurun, tekanan darah turun, nadi meningkat dan suhu naik keadaan dehidrasi makin jelas.
Ø  Gangguan faal hati terjadi dengan manifestasi ikterus.
Ø  Gangguan kesadaran dalam bentuk samnolen, sampai koma komplikasi susunan saraf pusat (ensofalapati wanicke) nistagmus perubahan arah bola mata, perubahan mental (Hafiel ddk, 2007).
2.1.6   Diagnosa Hyperemesis Gravidarum
Menetapkan kejadian Hyperemesis Gravidarum tidak sukar, dengan menentukan kehamilan, muntah berlebihan sampai menimbulkan gangguan kehidupan sehari-hari dan dehidrasi. Muntah yang terus-menerus tanpa pengobatan dapat menimbulkan gangguan tumbuh kembang janin dalam rahim. Oleh kareana itu Hyperemesis Gravidarum berkelanjutan harus dicegah dan harus mendapat pengobatan yang adekuat dan segera diberikan.
Kemungkinan penyakit lain yang menyertai kehamilan harus dipikirkan dan berkonsultasi dengan dokter tentang penyakit hati, penyakit ginjal, dan penyakit tukak lambung. Pemeriksaan laboratorium dapat membedakan ketiga kemungkinan hamis disertai penyakit (Wiknjosastro, 2005 : 278).
2.1.7   Pencegahan Hyperemesis Gravidarum
Prinsip pencegahan Hyperemesis Gravidarum adalah mengobati emesis agar tidak terjadi Hyperemesis.
Ø  Penerangan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan proses fisiologis
Ø  Makan sedikit-sedikit, tetapi sering. Berikan makanan selingan seperti biskuit roti kering dengan teh hangat saat bangun pagu dan sebelum tidur hindari atau sangat dingin.
Ø  Defekasi teratur (Mansjoer, 1999 : 260).
2.1.8   Penatalaksanaan Hyperemesis Gravidarum
Pengobatan yang baik pada emesis gravidarum sehingga dapat mencegah Hyperemesis Gravidarum tapi bila keadaan muntah berlebihan dan dehidrasi ringan penderita sebaiknya dirawat, dengan konsep pengobatan yang dapat diberikan sebagai berikut :
1.      Isolasi dan pengobatan psikologis
Dengan melakukan isolasi di rungan sudah dapat meringankan wanita hamil karena perubahan suasana dari lingkungan rumah tangga. Petugas dapat memberikan komunikasi, informasi dan edukasi tentang berbagai masalag berkaitan dengan kehamilan.
2.      Pemberian cairan pengganti
Dalam keadaan darurat diberikan cairan pengganti sehingga keadaan dehidrasi dapat diatasi. Cairan pengganti yang diberikan glukosa 5% sampai 10% untuk mengganti cairan yang hilang dan sebagai sumber energi dalam cairan dapat ditambahkan vitamin C, B kompleks atau kalium yang diperlukan untuk kelancaran metabolisme. Selama pemberian cairan, perhatikan tentang keseimbangan cairan yang masuk dan keluar, serta tanda-tanda vital
3.      Obat yang diberikan
a.       Sedativa ringan
Ø  Phenobarbital (luminal) 30gr
Ø  Valium
b.      Anti alergi
Ø  Antihistamin
Ø  Dramamin
Ø  Avomin
c.       Obat anti mual muntah
Ø  Mediameter B6
Ø  Emeterole
Ø  Stimetil
Ø  Auopreg
d.      Vitamin
Ø  Terutama vitamin B kompleks
Ø  Vitamin C
4.      Menghentikan kehamilan
Pada beberapa kasus, pengobatan Hyperemesis Gravidarum tidak berhasil malah terjadi kemunduran dan keadaan semakin menurun sehingga diperlukan pertimbangan untuk melakukan penghentian kehamilan antara lain :
a.       Gangguan kejiwaan
Ø  Deltrium
Ø  Apatris, somnolen sampai koma
Ø  Terjadi gangguan jiwa ensefalopati wernicke
b.      Gangguan penglihatan
Ø  Perdarahan retina
Ø  Kemunduran penglihatan
c.       Gangguan faal
Ø  Hati dalam bentuk ikterus
Ø  Ginjal dalam bentuk anuria
Ø  Jantung dan pembuluh darah terjadi nadi meningkat
Ø  Tekanan darah menurun (Manuaba, 2001 : 399).
2.1.9   Prognosa Hyperemesis Gravidarum
Dengan penanganan yang baik prognosis Hyperemesis Gravidarum sangat memuaskan. Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri, namun demikian pada tingkatan yang berat, penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin (Wiknjosastro, 2005 : 279).
2.2         Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Hyperemesis Gravidarum
2.2.1   Umur Ibu
Hamil pada usia muda merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya Hyperemesis Gravidarum. Dalam kurun reproduksi  sehat dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun. Kematian maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada usia di bawah 20 tahun adalah                 2-5 kali lebih tinggi dari pada kematian maternal yang terjadi pada 20-29 tahun. Kematian maternal meningkat kembali setelah usia 30-35 tahun. Hal ini disebabkan menurunnya fungsi organ reproduksi wanita pada usia tersebut (Wiknjosastro, 2005 : 23).

2.2.2   Pendidikan
Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilakunya terhadap pola hidup terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam perubahan kesehatan. Makin tinggi pendidikan makin mudah menerima informasi, sehingga banyak pola pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya makin rendah atau kurang pendidikan seseorang akan menghambat perkembangan sikap terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan (Rahmadewi, 2003 : 220).
2.2.3   Pekerjaan
Menurut Satyanegara dalam Iriyani (2007), kaum wanita yang meninggalkan pekerjaan karena komitmen terhadap keluarga, mereka membiasakan diri kembali dengan biaya-biaya yang mereka keluarkan dan menerima gaji kecil. Penyesuaian diri cukup emosional juga mengikuti datangnya seorang anak ke dalam hubungan suami istri. Menjadi seorang ibu merupakan hal yang amat didambakan oleh banyak wanita dalam kehidupan mereka, akan tetapi menjadi ibu tentu merupakan suatu aktifitas yang penuh stres. Sebaiknya dengan bijaksana para pasangan untuk pada awalnya membicarakan apa yang mereka harapkan satu sama lain dalam rangka dukungan emosional dan praktis.
Menurut Winkjosastro dalam buku Ilmu Kebidanan (2005) membahas penyebab utama terjadi Hyperemesis Gravidarum yaitu ; cemas dengan kehamilan dan persalinan, rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan sehingga dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian terhadap kesukaran hidup.
2.2.4   Usia Kehamilan
Mual dan muntah adalah gejala yang wajar dan sering terdapat pada kehamilan trimester I (0-12 minggu). Mual biasanya terjadi pada pagi hari tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala-gejala ini kurang lebih terjadi pada usia kehamilan 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu (Winkjosastro, 2005 : 275).
Sekitar 50-70% ibu hamil mengalami mual dan muntah. Keluhan mual dan muntah ini dikatakan wajar jika dialami pada uia kehamilan 8-12 minggu dan semakin berkurang secara bertahap hingga akhirnya berhenti di usia kehamilan 16 minggu (Imam, 2005).
2.2.5   Gravida
Mual dan muntah terjadi pada 60-80% primigravida dan 40-60% multigravida. Jumlah kehamilan 2-3 (multi) merupakan paritas yang aman ditinjau dari sudut kematian maternal. Hal ini dikarenakan persiapan fisik ibu dalam menghadapi kehamilan sudah lebih matang dibandingkan dengan kehamilan pertama ibu (Winkjosastro, 2005 : 275).

No comments:

Post a Comment

Bidan dan Perawat

Google+ Followers