Wednesday, May 22, 2013

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BBLR DI IRNA KEBIDANAN RUMAH SAKIT UMUM PUSAT Dr. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG TAHUN 2010


BAB I
PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang
Secara global dikemukakan bahwa selama tahun 2000, terdapat 4 juta kematian neonatus (3 juta kematian neonatal dini dan 1 juta kematian neonatal lanjut). Hampir 99% kematian tersebut terjadi di negara berkembang. Kematian tertinggi di Afrika (88 per seribu kelahiran), sedangkan di Asia angka kematian perinatal mendekati 66 bayi dari 1.000 kelahiran hidup. Bayi kurang bulan dan bayi berat lahir rendah adalah satu dari tiga penyakit utama kematian neonatus (Rahayu, 2009).

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG PADA TAHUN 2010


BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi (Kumala, 2011).
Secara global dikemukakan bahwa selama tahun 2000, terdapat 4 juta kematian neonatus (3 juta kematian neonatal dini dan 1 juta kematian neonatal lanjut). Hampir 99% kematian tersebut

HUBUNGAN ANTARA ANEMIA DAN KEBIASAAN MEROKOK PADA IBU HAMIL DENGAN KEJADIAN BBLR DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG TAHUN 2010


BAB I
PENDAHULUAN
1.1      Latar Belakang
Secara global dikemukakan bahwa terdapat 4 juta kematian neonatus. Hampir 99% kematian tersebut terjadi di negara berkembang. Kematian tertinggi di Afrika yaitu 88 per 1.000 kelahiran. Bayi kurang bulan dan berat badan lahir rendah adalah 1 dari 3 penyakit utama kematian neonatus tersebut (Rahayu, 2009).

HUBUNGAN ANTARA UMUR DAN PARITAS IBU DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT Dr. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG TAHUN 2010


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2.500 gram, tanpa memandang usia kehamilan, yang dibedakan menjadi dua bagian: pertama; BBL sangat rendah apabila lahir berat lahir kurang dari 1.500 gram, dan kedua, BBLR bila berat lahir antara 1.501-2.499 gram (IDAI, 2009).

HUBUNGAN ANTARA UMUR IBU DAN ANEMIA IBU HAMIL DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT Dr. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG TAHUN 2010


BAB I
PENDAHULUAN

1.1          Latar Belakang
Di negara maju mortalitas dan morbiditas neonatus menurun sejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap ibu hamil dan pemanfaatan pelayanan intensif neonatus dengan risiko. Perawatan semacam ini dikenal dengan Perawatan tingkat 3 (Level III) dimana pelayanan neonatus dilakukan secara komprehensif baik perawatan medik maupun bedah (Rahayu, 2009)
Pelayanan tersebut meliputi perawatan bayi berisiko khususnya Bayi Kurang Bulan (BKB) baik dengan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) biasa, Bayi Berat Lahir Amat Rendah (Very Low Birth Weight-VLBW) ataupun Bayi Berat Lahir Amat Sangat Rendah (Extremely LBW). Pada BKB dan BBLR perawatan level III dilakukan pada semua bayi dengan berat lahir 1500 gram. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh mortalitas yang tinggi tetapi juga karena morbiditas yang beragam (Rahayu, 2009).
Lebih dari 20 juta bayi diseluruh dunia (15,5%) dari seluruh kelahiran, merupakan BBLR, 95,6% diantaranya merupakan bayi yang dilahirkan di negara-negara sedang berkembang. Insidensi BBLR di Asia adalah 22% (Ibrahim, 2009).
Di Indonesia, berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003, angka kematian neonatal sebesar 20 per 1000 kelahiran hidup. Dalam 1 tahun, sekitar 89.000 bayi usia 1 bulan meninggal. Artinya setiap 6 menit ada 1 (satu) neonatus meninggal. Penyebab utama kematian neonatal adalah Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) sebanyak 29%. Insidensi BBLR di Rumah Sakit di Indonesia berkisar 20%. Di pusat rujukan regional Jawa Barat setiap tahunnya antara 20 – 25% kelahiran BBLR, sedangkan di daerah pedesaan / rural 10,5%. Di daerah rural sebagian besar BBLR meninggal dalam masa neonatal. Sementara di level II di tingkat kabupaten di Jawa Barat sebagian besar Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR) dengan berat lahir (Rahayu, 2009).
Bayi berat lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram pada saat lahir (Mitayani, 2009).
BBLR telah didefinisikan oleh WHO sebagai bayi lahir dengan berat kurang dari 2500 gram. Definisi ini didasarkan pada hasil observasi epidemiologi yang membuktikan bahwa bayi lahir dengan berat kurang dari 2500 gram mempunyai kontribusi terhadap outcome kesehatan yang buruk. Menurunkan insiden BBLR hingga sepertiganya menjadi salah satu tujuan utama “A World Fit for Children” hingga tahun 2010 sesuai deklarasi dan rencana kerja United Nations General Assembly Special Session on Children in 2002 (Rahayu, 2009).
Angka Kematian Bayi di Indonesia menurut hasil survei kesehatan rumah tangga angka kematian bayi 145 / 1000 kelahiran hidup sedangkan AKB di Kota Palembang tahun 2004, berdasarkan Laporan Indikator Database 2005 UNFPA 6th Country Programme, adalah 26,68 untuk laki-laki dan 20,02 untuk wanita per 1.000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Kota Palembang, 2008).
Pencapaian kunjungan neonatus mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yaitu 82.1%, sedangkan tahun 2007 sebesar 90.00%. Jumlah kunjungan bayi tahun 2008 sebesar 94.6% naik dari tahun 2007 yaitu 88%. Jumlah bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR) hanya 0.6%. Pencapaian jumlah bayi yang diberi ASI ekslusif sebesar 80.3% dari jumlah bayi 30.817 menurun jika dibandingkan dengan tahun 2007 yaitu sebesar 84.4% dari 32.886 bayi (Profil Kesehatan Kota Palembang, 2008).
Berdasarkan Dinas Kesehatan Sumsel angka kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) tahun 2008 sebanyak 220 per 1.000 angka kelahiran hidup dan pada tahun 2009 sebanyak 215 per 1.000 kelahiran hidup. 
Kota Palembang angka kelahiran BBLR tahun 2008 sebanyak 213 per 1.000 dan pada tahun 2009 sebanyak 253 per 1.000 kelahiran hidup (Profil Dinkes, 2010).
Penyebab BBLR adalah usia ibu, Jarak Kehamilan atau Kelahiran, Paritas, Kadar Haemoglobin, Status Gizi Ibu Hamil, Pemeriksaan Kehamilan, Penyakit Saat Kehamilan (Rochjati, 2003).
Data Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang, angka kejadian BBLR pada tahun 2007 adalah 142 kasus BBLR dari 3.337 bayi yang dilahirkan (4%), pada tahun 2008 adalah 233 kasus BBLR dari 2.439 bayi dilahirkan (9,5%), pada tahun 2009 sebesar 313 kasus BBLR dari 2.400 bayi yang dilahirkan (13%), pada tahun 2010 sebesar 219 kasus BBLR dari 1.476 bayi yang dilahirkan (14,8%) (Medical Record, 2010).
Berdasarkan data di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti Hubungan Umur Ibu dan Anemia Ibu Hamil Dengan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2010.

1.2          Rumusan Masalah
Masih tingginya angka BBLR di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang 2010.

1.3          Pertanyaan Penelitian
Apakah ada hubungan antara Umur Ibu dan Anemia Selama Kehamilan dengan Kejadian BBLR di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2010 ?

1.4          Tujuan Penelitian
1.4.1     Tujuan Umum
Diketahuinya hubungan antara umur dan anemia pada ibu hamil dengan kejadian BBLR di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2010.
1.4.2      Tujuan Khusus
1.      Diketahuinya distribusi frekuensi kejadian BBLR di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2010.
2.      Diketahuinya distribusi frekuensi umur ibu bersalin di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2010.
3.      Diketahuinya distribusi frekuensi anemia ibu hamil di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2010.
4.      Diketahuinya hubungan umur ibu dengan kejadian BBLR pada ibu bersalin di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2010.
5.      Diketahuinya hubungan anemia selama kehamilan dengan kejadian BBLR pada ibu bersalin di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2010.

1.5           Manfaat Penelitian
1.5.1      Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambahkan wawasan dan pengetahuan penulis serta sebagai salah satu persyaratan untuk mendapatkan gelar Ahli Madya Kebidanan Budi Mulia Palembang.

1.5.2     Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan atau referensi dan informasi bagi peserta didik sehingga menjadi acuan dalam proses belajar, serta menambah bahan kepustakaan di Akademi Kebidanan Budi Mulia Palembang.
1.5.3     Bagi Institusi Kesehatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan masukan untuk mengatasi kejadian BBLR di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang dan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi keberhasilan dalam mengatasi BBLR.

1.6          Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini, penulis mencoba membatasi masalah hubungan antara umur dan anemia pada ibu hamil dengan kejadian BBLR di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2010. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan 13 Juni – 03 Juli 2011 dan adapun jenis penilitian ini bersifat survey analitik dengan desain penelitian “Cross Sectional”.   

HUBUNGAN ANTARA UMUR BALITA DAN PENDIDIKAN IBU DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEKIP PALEMBANG TAHUN 2010


BAB I
PENDAHULUAN
1.1      Latar Belakang
Diare lebih dominan menyerang balita karena daya tahan tubuh balita yang masih lemah sehingga balita sangat rentan terhadap penyebaran virus penyebab diare.

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA BERAT PADA BALITA DI IRNA ANAK DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT Dr. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG TAHUN 2010


BAB I
PENDAHULUAN
1.1          Latar Belakang
Pneumonia merupakan penyebab kematian tunggal pada anak terbesar di seluruh dunia. Setiap tahun, pneumonia membunuh sekitar 1,8 juta anak di bawah 5 tahun atau sekitar 20% dari seluruh kematian balita di seluruh dunia. Angka ini lebih tinggi dari kematian akibat AIDS, malaria dan campak. Jika digabungkan terdapat sekitar 155 juta kasus pneumonia di seluruh dunia setiap tahunnya (Wibowo, 2010).

Bidan dan Perawat

Google+ Followers