Wednesday, April 3, 2013

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS BASUKI RAHMAT PALEMBANG TAHUN 2009

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin di bawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar < 10,5 gr% pada trimester II (Sarwono, 2006).
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator ketidakberhasilan dalam memberi pelayanan kesehatan di suatu negara. Kematian ibu dapat terjadi karena beberapa sebab, diantaranya karena anemia (Amiruddin, 2007).

Menurut WHO, 40% kematian ibu di negara berkembang berkaitan dengan anemia dalam kehamilan. Kebanyakan anemia dalam kehamilan di sebabkan oleh defisiensi zat besi dan pendarahan akut bahkan tidak jarang keduanya saling berinteraksi. (Sarwono, 2006)
WHO menyatakan kejadian anemia berkisar antara 20% sampai 89% dengan menetapkan HB normalnya 11 gr%. Selain itu di daerah pedesaan banyak di jumpai ibu hamil kekurangan gizi, kehamilan dan persalinan dengan jarak yang berdekatan, dan ibu hamil dengan pendidikan dan tingkat sosial ekonomi rendah (Manuaba, 2007).
Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2005, faktor penyebab langsung kematian ibu adalah pendarahan 40 – 60%, pre eklampsia dan eklampsi 20 – 30%, infeksi 20 – 30%. Sedangkan penyebab tidak langsung yang mendasar adalah faktor lingkungan, perilaku, genetik dan pelayanan kesehatan sendiri, salah satunya adalah 53% ibu hamil menderita anemia, 4 terlalu (hamil atau bersalin terlalu muda dan tua umurnya, terlalu banyak anak dan terlalu dekat jarak kehamilan / persalinannya).
Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001, jenis dan besaran masalah gizi di Indonesia 2001 hingga 2003 menunjukkan 2 juta ibu hamil menderita anemia, 350 ribu berat bayi lahir rendah setiap tahun, 5 juta balita kurang gizi, 8,1 juta anak dan 3,5 juta remaja dan wanita usia subur menderita anemia kurang zat besi. Anemia yang memprihatinkan adalah anemia yang terjadi pada ibu hamil, remaja dan balita (Untoro, 2004).
Berdasarkan data yang di ambil di Puskesmas Basuki Rahmat Tahun 2007 jumlah ibu dengan anemia adalah 15 orang dari 1054 ibu hamil atau 1,42%. Sedangkan pada tahun 2008 jumlah ibu hamil dengan anemia mencapai 30 orang dari 1054 ibu hamil atau 2,85%.
Berdasarkan hal-hal di atas, maka penulis melakukan penelitian yang berjudul “Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil di Puskesmas Basuki Rahmat Palembang Tahun 2008.”

1.2    Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan antara umur, paritas dan pendidikan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Basuki Rahmat Palembang tahun 2009?

1.3    Tujuan Penelitian
1.3.1        Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Poli KIA Puskesmas Basuki Rahmat Palembang Tahun 2009. 
1.3.2        Tujuan Khusus
1.      Diketahuinya distribusi frekuensi dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Poli KIA Puskesmas Basuki Rahmat Palembang Tahun 2009.
2.      Diketahuinya distribusi frekuensi umur ibu dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Poli KIA Puskesmas Basuki Rahmat Palembang Tahun 2009.
3.      Diketahuinya distribusi frekuensi paritas ibu dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Poli KIA Puskesmas Basuki Rahmat Palembang Tahun 2009.
4.      Diketahuiya distribusi frekuensi pendidikan ibu dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Poli KIA Puskesmas Basuki Rahmat Palembang            Tahun 2009.
5.      Diketahuinya hubungan umur ibu dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Poli KIA Puskesmas Basuki Rahmat Palembang Tahun 2009.
6.      Diketahuinya hubungan paritas ibu dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Poli KIA Puskesmas Basuki Rahmat Palembang Tahun 2009.
7.      Diketahuinya hubungan pendidikan ibu dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Poli KIA Puskesmas Basuki Rahmat Palembang Tahun 2009.

1.4    Manfaat Penelitian
1.4.1        Bagi Penulis
1.      Untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai penelitian      tentang hubungan antara umur ibu, paritas dan pendidikan dengan kejadian anemia pada ibu hamil.
2.      Untuk menerapkan ilmu yang telah di dapatkan kepada masyarakat luas tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil.
3.      Untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat di bangku kuliah mengenai pengetahuan metodelogi penelitian dan statistik.
1.4.2        Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat di gunakan sebagai referensi dalam memberikan informasi dan pengetahuan tentang anemia pada ibu hamil.

1.4.3        Bagi Institusi Kesehatan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan untuk meningkatkan pelayanan dan penyuluhan bagi ibu hamil agar sering memeriksakan kehamilannya sehingga dapat mendeteksi anemia secara dini.

1.5    Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada umur ibu, paritas dan pendidikan yang berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Poli KIA Puskesmas Basuki Rahmat Palembang yang dilaksanakan pada bulan Mei tahun 2009.   

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Konsep Dasar Anemia dalam Kehamilan
2.1.1   Pengertian Kehamilan
Masa kehamilan di mulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) di hitung dari hari pertama haid terakhir (Sarwono, 2006).  
Kehamilan di bagi atas 3 triwulan (Trimester), yaitu :
1.      Kehamilan trimester 1, di mulai dari konsepsi sampai 3 bulan atau 0 – 12 minggu.
2.      Kehamilan trimester II, dari bulan ke empat sampai 6 bulan atau 12 – 24 minggu.
3.      Kehamilan trimester III, dari bulan ke tujuh sampai 9 bulan atau 24 – 36 minggu.
(Saifuddin, 2006).

2.1.2   Pengertian Anemia
Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin di bawah 11gr% pada trimester I dan III atau kadar hemoglobin < 10,5gr% pada trimester II (Sarwono, 2006).
Menurut Wiknjosastro (2005), anemia adalah kondisi ibu hamil dengan kadar Hemoglobin (Hb) < 10 gr%.
Anemia adalah salah satu akibat dari kekurangan darah dalam jumlah banyak kerusakan sel-sel darah merah kekurangan bahan dasar untuk membuat sel darah merah seperti hemoglobin (Fajar, 2006).
2.1.3   Gejala dan Tanda Anemia
Anemia dapat menyebabkan tanda dan gejala sebagai berikut :
1.      Letih, sering mengantuk
2.      Pusing, lemah
3.      Nyeri kepala
4.      Luka pada lidah
5.      Kulit pucat
6.      Kuku tangan pucat
7.      Tidak ada nafsu makan, mual dan muntah
(Varney, 2006)

2.1.4   Etiologi
Menurut Kapita Selekta (2001), penyakit yang menyebabkan anemia dalam kehamilan yaitu anemia defisiensi zat besi, anemia akibat perdarahan, anemia akibat radang, anemia megaloblastik, anemia hemolotik, anemia aplastik atau hipoplastik.  
Sedangkan Etiologi anemia pada kehamilan menurut Evidence Based (2007), yaitu :
1.      Pengenceran darah
2.      Pertambahan darah tidak sebanding dengan pertambahan plasma.
3.      Kurangnya zat besi dalam makanan.
4.      Kebutuhan zat besi meningkat

2.1.5   Diagnosis Anemia
Anemia (kekurangan darah) pada ibu hamil dapat ditemukan dengan tanda –tanda seperti wajah pucat pasi, mata merah dan telapak tangan pucat, lekas lelah, lemah dan lesu (Nadesul, 2008).
Pemeriksaan darah dan pengawasan HB dapat digunakan dengan menggunakan alat sahli. Hasil pemeriksaan Hb dengan sahli dapat digolongkan : Hb 11 gr% tidak anemia, 9 – 10 gr% anemia ringan, 7 – 8 gr% anemia sedang, < 7 gr% anemia berat (Manuaba, 2007).

2.1.6   Pembagian Anemia dalam Kehamilan
Menurut Wiknjosastro (2005), Anemia dalam kehamilan terbagi beberapa bagian yaitu :
1.      Anemia defisiensi besi
Anemia dalam kehamilan yang paling sering dijumpai ialah anemia akibat kekurangan zat besi. Kekurangan ini dapat di sebabkan karena gangguan reabsorbsi, gangguan penggunaan atau karena terlampau banyknya zat besi ke luar dari badan, misalnya pada perdarahan.
2.      Anemia Megaloblastik
Anemia megaloblastik dalam kehamilan dapat disebabkan karena defisiensi asam folik, jarang sekali karena defisinesi Vitamin B12.
3.      Anemia Hipoplastik
Anemia pada wanita hamil yang disebabkan karena sumsum tulang belakang kurang mampu membuat sel-sel darah baru, dinamakan anemia hipoplastik dalam kehamilan. 
4.      Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari pembuatannya. Wanita dengan anemia hemolitik sukar menjadi hamil, apabila ia hamil, maka anemia biasanya menjadi lebih berat. Sebaliknya mungkin pula bahwa kehamilan menyebabkan krisis hemolitik pada wanita yang sebelumnya tidak menderita anemia.  

2.1.7   Faktor-faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Anemia
Menurut Yeni (2009), penyebab langsung kematian ibu adalah pendarahan 40 – 60%, pre eklampsia dan eklampsi 20 – 30%, infeksi 20 – 30%. Sedangkan penyebab tidak langsung yang mendasar adalah faktor lingkungan, perilaku, genetik dan pelayanan kesehatan sendiri, salah satunya adalah 53% ibu hamil menderita anemia, 4 terlalu (hamil atau bersalin terlalu muda dan tua umurnya, terlalu banyak anak dan terlalu dekat jarak kehamilan / persalinannya).

2.2    Pengaruh Anemia
2.2.1   Pengaruh Anemia dalam Kehamilan
Pengaruh anemia dalam kehamilan dapat terjadi abortus, partus prematurus, partus lama karena atonia uteri, syok, infeksi, baik intrapartum maupun postpartum, anemia yang sangat berat dengan Hb kurang dari 4 gr/100 ml dapat menyebabkan dekonpensasi kordis (Prawirohardjo, 2005).

2.2.2   Pengaruh Anemia pada Persalinan
Pengaruh Anemia pada saat persalinan dapat terjadi gangguan his-kekuatan mengejan, kala pertama dapat berlangsung lama dan terjadi partus terlantar, kala dua berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan operasi kebidanan, kala tiga uri dapat diikuti retensio placenta, dan pendarahan postpartum karena antonia uteri, kala empat dapat terjadi perdarahan postpartum sekunder dan anonia uteri (Manuaba, 2007).

2.2.3   Pengaruh Anemia pada Masa Nifas
Pengaruh anemia pada saat nifas antara lain terjadi sub-involusi uteri menimbulkan pendarahan postpartum, memudahkan infeksi puerperium, pengeluaran ASI berkurang, terjadi dekompensasi kordis mendadak setelah persalinan, anemia kala nifas, mudah terjadi infeksi mamae (Manuaba, 2007).
  
2.2.4   Pengaruh Anemia pada Janin
Sekalipun tampaknya janin mampu menyerap berbagai kebutuhan dari ibunya, tetapi dengan anemia mengurangi kemampuan metabolisme tubuh sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim.
Akibat anemia dapat terjadi gangguan dalam bentuk abortus, kematian intra uterin, persalinan prematurus tinggi, BBLR, kelahiran dengan anemia, dapat terjadi cacat bawaan bayi mudah terkena infeksi (Manuaba, 2007).


2.2.5   Pencegahan Anemia
Pencegahan anemia dapat dilakukan dengan 4 pendekatan yaitu :
1.      Pemberian tablet atau suntikan zat besi
2.      Pendidikan dan upaya yang ada kaitannya dengan peningkatan asupan zat besi melalui makanannya.
3.      Pengawasan penyakit infeksi.
4.      Fortifikasi makanan pokok dengan zat besi.
(Arisman, 2004)

2.3    Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Anemia pada Ibu Hamil yang Diteliti
2.3.1   Umur Ibu
Dalam kurun reproduksi sehat di kenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20 – 30 tahun. kematian maternal pada wanita hamil               dan melahirkan pada usia di bawah 20 tahun ternyata 2 – 5 kali lebih tinggi dari pada kematian maternal meningkat kembali sesudah umur 30 – 35 tahun (Wiknjosastro, 2005).
Umur seorang ibu berkaitan dengan alat-alat reproduksi wanita umur reproduksi yang sehat dan aman adalah umur 20 – 35 tahun. Kehamilan di usia < 20 tahun dan > 35 tahun dapat menyebabkan terjadinya anemia pada usia < 20 tahun secara biologis belum optimal emosinya cenderung labil, mentalnya belum matang sehingga mudah mengalami keguncangan yang mengakibatkan kurangnya perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan zat-zat gizi selama kehamilannya. Sedangkan pada usia > 35 tahun terkait dengan kemunduran dan penurunan          daya tahan tubuh serta berbagai penyakit yang sering menimpa di usia ini (Amiruddin, 2007).
2.3.2   Paritas
Paritas adalah jumlah anak yang telah dilahirkan oleh seorang ibu baik lahir hidup maupun mati. Seorang Ibu yang sering melahirkan mempunyai resiko mengalami anemia pada kehamilan berikutnya. Apabila tidak memperhatikan kebutuhan nutrisi, karena selama hamil zat-zat gizi akan terbagi untuk ibu dan janin yang dikandungnya (Amiruddin, 2007).
2.3.3   Pendidikan
Pendidikan yang dijalani seseorang memiliki pengaruh pada peningkatan kemampuan berpikir, dengan kata lain seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan dapat mengambil keputusan yang rasional, bersifat terbuka untuk menerima perubahan atau hal baru dibandingkan dengan individu yang berpendidikan lebih rendah (Depkes RI, 2001). 
Menurut Depdiknas (2001) tingkat pendidikan program pemerintah dengan menggalakkan program wajib belajar 9 tahun. Jadi pendidikan sekolah lanjut tingkat 1 masih di kategorikan pendidikan rendah dan dapat dikatakan pendidikan tinggi jika telah menyelesaikan pendidikan sekolah lanjutan tingkat atas.
 
2.4    Hasil Penelitian yang Terkait dengan Kejadian Anemia pada Ibu Hamil
2.4.1   Umur Ibu
Menurut Amiruddin (2007), bahwa ibu hamil yang berumur kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun yaitu 74,1% menderita anemia dan ibu hamil yang berumur 20 – 35 tahun yaitu 50,5% menderita anemia. Wanita yang berumur kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, mempunyai risiko yang tinggi untuk hamil, karena akan membahayakan kesehatan dan keselamatan ibu hamil maupun janinnya, beresiko mengalami pendarahan dan dapat menyebabkan ibu mengalami anemia.  

2.4.2   Paritas
Menurut Herlina (2007), Ibu hamil dengan paritas tinggi mempunyai resiko 1.454 kali lebih besar untuk mengalami anemia dibanding dengan paritas rendah. Adanya kecenderungan bahwa semakin banyak jumlah kelahiran (paritas), maka akan semakin tinggi angka kejadian anemia.

2.4.3   Pendidikan
Pada beberapa pengamatan menunjukkan bahwa kebanyakan anemia yang di derita masyarakat  adalah karena kekurangan gizi banyak di jumpai di daerah pedesaan dengan malnutrisi atau kekurangan gizi. Kehamilan dan persalinan dengan jarak yang berdekatan, dan ibu hamil dengan pendidikan dan tingkat sosial ekonomi rendah (Manuaba, 2007).
Menurut penelitian Amirrudin dkk (2007), faktor yang mempengaruhi status anemia adalah tingkat pendidikan rendah.


No comments:

Post a Comment

Bidan dan Perawat

Google+ Followers