Wednesday, April 10, 2013

HUBUNGAN ANTARA SIKAP DAN PENGETAHUAN IBU DENGAN FREKUENSI KUNJUNGAN ULANG PEMERIKSAAN KEHAMILAN (K4) DI PUSKESMAS SUKARAME PALEMBANG TAHUN 2008

BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Pemerintah sebenarnya telah mengupayakan beberapa program dalam usahanya menurunkan angka kematian ibu. Pada tahun 2000 direncanakan Gerakan Nasional Kehamilan yang Aman atau Making Pregnancy Safer (MPS) sebagai bagian dari Strategi Pembangunan Kesehatan Masyarakat menuju Indonesia Sehat 2010. Fokus pembenahannya bahwa dalam setiap persalinan hendaknya ditolong oleh tenaga kesehatan terampilan, setiap komplikasi persalinan mendapatkan pelayanan optimal dan setiap wanita usia subur memiliki akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan serta penanganan komplikasi aborsi (Nugraha, 2007).

Mortalitas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di Negara berkembang, di negara miskin sekitar 25-50% kematian wanita usia subur disebabkan hal berkaitan dangan kehamilan. Menurut Wold Health Organization (WHO), lebih dari 585.000 ibu pertahunya meninggal saat hamil atau bersalin (Saifuddin, 2000).
WHO memperkirakan bahwa sekitar 15% dari seluruh wanita yang hamil akan berkembang menjadi komplikasi yang berkaitan dengan kehamilanya serta dapat mengancam jiwanya. Dari 5.600.000 wanita hamil di Indonesia, sejumlah besar akan mengalami suatu komplikasi atau masalah yang bisa menjadi fatal, Survey Demografi dan Kesehatan yang dilaksanakan pada tahun 1997 menyatakan bahwa dari tahun 1992-1997, 26% wanit dengan kelahiran hidup mengalami komplikasi (Pusdiknakes, 2003).
Angka Kematian Ibu (AKI) sebagai salah satu indikator kesehatan ibu, dewasa ini masih tinggi di Indonesia bila dibandingkan dengan AKI di negara ASEAN lainya. Menurut data dari Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2000-2003, AKI di Indonesia adalah 307 per 100.000 kelahiran hidup. Hal ini berarti bahwa lebih dari 18.000 ibu meninggal per tahun atau. 2 ibu meninggal tiap jam oleh sebab yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan dan nifas. Sampai dengan tahun 2002, AKI tersebut mengalami penurunan yang lambat dengan adanya krisis ekonomi sejak tahun 1997 lalu (Depkes, 2004).
Masalah kematian dan kesakitan ibu di Indonesia masih merupakan masalah besar. Angka kematian ibu (AKI) menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1995 adalah 375 per 100.000 kelahiran hidup dan menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2003 adalah 307 per 100.000 (Anonymous, 2003).
Kondisi derajat kesehatan di Indonesia ini masih memprihatikan antara lain ditandai dengan masih tingginya AKI yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup dan mati bayi baru lahir 35 per 1000 SDKI 2002/2003 (Depkes RI, 2005).
Sasaran ibu hamil tahun 2006 adalah 5167 jiwa, pada bulan Januari sampai Desember, kunjungan awal (K1) mencapai 4947 (95,78%) sedangkan kunjungan ulang (K4) mencapai 4423 (85,60%) (Dinkes, 2008).
Pemeriksaan kunjungan awal (K1) yaitu kontak atau pemeriksaan pertama kali dengan petugas kesehatan yang dilakukan oleh responden di 10 kabupaten ini berkisar antara 50% hingga 90% dan umumnya dilakukan pada trismester pertama. Sementara kunjungan ulang (K4) atau kontak dengan petugas kesehatan keempat kalinya atau lebih berkisar antara 46% - 90% (tertinggi di kabupaten Trenggalek, terendah di kabupaten Sampang). Sebagaimana diketahui, Depkes RI menetapkan target kunjungan awal (K1) di tahun 2010 adalah 95% dan kunjungan ulang (K4) adalah 90% (BKKBN, 2006).
Berdasarkan Dinkes (2006), jumlah ibu hamil di Puskesmas Sukarame adalah 820 orang, dengan cakupan kunjungan ulang ibu hamil 950 orang (115,9%) dan jumlah ibu hamil risti sebanyak 18 orang (2,19%) (Profil Kesehatan, 2006).
Kejadian kesekitan dan kernatian ibu hamil juga berakar pada ketidakberdayaan perempuan dalam mendapatkan kesetaraan dalam hal pendidikan, pekerjaan, ekonomi serta dalam memperoleh pelayanan kesehatan, dasar. Faktor ini telah menciptakan dampak buruk dengan rendahnya kualitas kesehatan ibu hamil, bahkan sebelum kehamilan itu terjadi dan makin di perparah saat kehamilan dan persalinanya. Pemeriksaan kandungan secara rutin bagi ibu hamil juga terbukti masih di bawah standar nasional 4 kali selama masa kehamilan (Nugraha, 2007).
Menurut Saifudin, kunjungan anternatal untuk pemantauan dan pengawasan kesejahteraan ibu dan anak minimal empat kali selama kehamilan dalam waktu sebagai berikut : kehamilan trismester pertama (≤ 14 minggu ) satu kali kunjungan, kehamilan trismester kedua (14-28 minggu) satu kali kunjungan dan kehamilan trismester ketiga (28-36 minggu dan sesudah minggu ke-36) dua kali kunjungan (Salmah, 2006).
Komplikasi yang berhubungan dengan kematian marternal dapat dicegah, bila kesehatan ibu selama hamil selalu terjaga melalu pemeriksaan anternatal yang teratur dan pertolongan yang bersih aman dalam Indonesia Sehat 2010 ditargetkan penurunan AKI dan AKB serta perinatal di tingkat pelayanan dasar dan pelayanan rujukan primer, dapat dilakukan dengan mengembangkan konsep Audit Matemal-Perinatal (Depkes RI, 2003).
1.2         Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan antara sikap dan pengetahuan ibu dengan frekuensi kunjungan ulang pemeriksaan kehamilan (K4) di Puskesmas Sukarame Palembang tahun 2008?
1.3         Tujuan Penelitian
1.3.1   Tujuan Umum
Mengetahui hubungan sikap dan pengetahuan ibu dengan frekuensi kunjungan ulang pemeriksaan kehamilan (K4) di Puskesmas Sukarame Palembang tahun 2008.
1.3.2   Tujuan Khusus
Diketahui hubungan sikap dengan frekuensi kunjungan ulang pemeriksaan kehamilan (K4) di Puskesmas Sukarame Palembang            tahun 2008.
Diketahui hubungan pengetahuan ibu dengan frekuensi kunjungan ulang pemeriksaan kehamialan (K4) di Puskesmas Sukarame Palembang          tahun 2008.
1.4         Manfaat Penelitian
1.4.1   Bagi Peneliti
Dengan melaksanakan penelitian ini, peneliti dapat menerapkan secara langsung mata kuliah metodeologi penelitian dan dapat meningkatkan pemahaman tentang penulisan Karya Tulis Ilmiah.
1.4.2   Bagi Instansi Kesehatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi Puskesmas            Sukarame Palembang dan petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan dan dalam upaya pengembangan dan peningkatan pelayanan kesehatan khususnya pelayanan anternatal.
1.4.3   Bagi Institusi Pendidik
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan, informasi, umpan balik bagi proses pembelajaran dam memberikan sumbangan pemikiran terhadap penelitian di masa yang akan datang serta dapat menambah literatur kepustakaan Akademi Kebidanan Budi Mulia Palembang.
1.5         Ruang Lingkup
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Sukarame Palembang tahun 2008. Populasi dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah : semua ibu hamil yang di wilayah kerja Puskesmas Sukarame Palembang pada bulan         Maret-April tahun 2008. Adapun variabel independen yang diteliti adalah sikap dan pengetahuan, sedangkan variabel dependen yaitu frekuensi kunjungan ulang pemeriksaan kehamilan (K4).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1         Konsep Dasar Asuhan Antenatal (Pemeriksaan Kehamilan)
2.1.1   Pengertian
Asuhan antenatal adalah asuhan kesehatan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya yang dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan (Depkes, 2004).
Asuhan antenatal adalah tugas klinis yang dirancang untuk memastikan keselamatan dan kesehatan baik ibu maupun bayi umumnya. Wanita hamil itu sehat dan pada kebanyakan kasus akan melahirkan bayi yang sehat pula. Meskipun demikian, resiko terhadap ibu, bayi atau keduanya dapat terjadi selama kehamilan dan persalinan dengan ketetapan yang tidak terduga serta konsekuensi berbahaya (Suhemi, 2008).
Asuhan antenatal adalah pengawasan terhadap kehamilan untuk mendapatkan informasi mengenai kesehatan umur ibu, menegakkan secara dini penyakit yang menyertai kehamilan dan menetapkan risiko kehamilannya (Manuaba, 2008).
Asuhan antenatal adalah pemeriksaan yang sistematis dan diteliti yang dilakukan oleh bidan kepada ibu hamil untuk memantau perkembangan dan pertumbuhan janin dalam kandungan agar kondisi ibu dan janin dalam kondisi yang baik (Saifuddin, 2002).
2.1.2   Tujuan Pemeriksaan Kehamilan
Menurut Setiawan (2008) dan Manuaba (2008), Tujuan Pemeriksaan Kehamilan :
1.      Memantau kemajuan kehamilan dan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi.
2.      Meningkat dan mempertahankan kesehatan fisik dan mental dan sosial ibu.
3.      Mengenal secara dini adanya ketidaknormalan, kompliksi yang mungkin terjadi selama hamil termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan.
4.      Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif.
5.      Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara optimal. (Setiawan, 2008).
6.      Mempersiapkan kehamilan sehat optimal.
7.      Mempersiapkan persalinan aman dan bersih.
8.      Menentukan kehamilan dengan resiko.
9.      Mempersiapkan kesehatan pascapartus dan laktasi.
10.  Memberi KIE atau motivasi keluarga berencana. (Manuaba, 2008).
2.1.3   Kunjungan Ibu Hamil
Kunjungan pemeriksaan kehamilan (antenatal) adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar yang ditetapkan. Istilah “kunjungan” disini tidak mengandung arti bahwa ibu hamil yang berkunjung ke fasilitas pelayanan, tetapi setiap kontak tenaga kesehatan (di Posyandu, pondok bersalin desa, kunjungan rumah) dengan ibu hamil untuk memberikan pelayanan antenatal sesuai standar dapat diagnggap sebagai kunjungan ibu hamil. Kunjungan ibu hamil dibagi menjadi dua, antara lain adalah :
1.      Kunjungan Awal (K1)
a.       Pengertian
Kunjungan awal adalah kunjungan ibu yang pertama kali pada masa kehamilan (Depkes, 2004).
Kunjungan awal adalah kontak atau pemeriksaan pertama kali dengan petugas kesehatan (Sudrajat, 2000).
Kunjungan awal adalah kesempatan bagi petugas kesehatan untuk mengenal faktor resiko ibu dan janin (Mansjoer, 2001).
b.      Indikator Pemantauan (PWS-KIA)
Akses pelayanan kunjungan awal pemeriksaan (cangkupan K1) menurut Depkes (2004), indikator akses ini digunakan untuk mengetahui jangkauan pelayanan antenatal serta kemampuan program dalam menggerakkan masyarakat. Rumusan yang dipakai untuk perhitungannya adalah :


 


c.       Pemeriksaan Awal Kehamilan
1)      Anamnesis
Tujuan dari anamnesis adalah untuk mendeteksi komplikasi-komplikasi dan menyiapkan untuk persalinan dengan mempelajari keadaan kehamilan ibu sekarang, kehamilan dan kelahiran terdahulu, kesehatan secara umum dan kondisi sosial ekonomi (Pusdinakes, 2003).
Anamnesis terdiri dari tiga macam yaitu anamnesis tentang identitas (nama pasien, nama suami, pekerjaan dan alamat) anamnesis obstetrik (kehamilan ke berapa, jenis persalinan terdauhulu, lama kawin dan tanggal haid terakhir) dan anamnesis tentang keluhan utama.
2)      Pemeriksaan Fisik
a)      Kolostrum keluar dari puting (dugaan).
b)      Perubahan warna pada payudara (dugaan).
c)      Payudara membesar, terasa tegang dan teraba tonjolan-tonjolan dan pembaran puting (dugaan).
d)     Pembesaran abdomen (kemungkinan).
e)      Palpasi batas-batas janin dan ballothement (kemungkinan)
f)       Penggerakan janin dan Djj positif (Varney, 2007).
3)      Pemeriksaan Panggul
a)      Pembesaran uterus (kemungkinan).
b)      Perubahan bentuk uterus (kemungkinan).
c)      Tanda piskacek (kemungkinan).
d)     Tanda hegar (kemungkinan).
e)      Tanda gooden (kemungkinan).
f)       Palpasi kontraksi Braxton Hicks (kemungkinan).
g)      Tanda Chadwick (kemungkinan) (Varney, 2007).
4)      Pemeriksaan Laboratorium
a)      Tes kehamilan positif (kemungkinan).
b)             Bukti kehamilan melalui pemeriksaan sonografi (positif) (Varney, 2007).
2.      Kunjungan Ulang (K4)
a.       Pengertian
Kunjungan ulang adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang keempat (atau lebih) untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar yang ditetapkan (Depkes, 2004).
Kunjungan ulang adalah kontak atau pemeriksaan dengan petugas kesehatan keempat kalinya atau lebih (Sudrajad, 2003).
Kunjungan ulang adalah kunjungan yang selanjutnya dilakukan wanita setelah melalui pemeriksaan antepartum pertamanya (Varney, 2007).
b.      Indikator Pemantauan (PWS-KIA)
Akses pelayanan kunjungan awal pemeriksaan (cangkupan K4) menurut Depkes (2004), dengan indikator ini dapat diketahui cakupan pelayanan secara lengkap (memenuhi standar pelayanan dan menepati waktu yang ditetapkan) yang menggambarkan tingkat perlindungan ibu disuatu wilayah menggambarkan manajemen ataupun kelangsungan KIA. Rumusan yang dipakai untuk perhitungannya adalah :

 
 


c.       Pemeriksaan Ulang Kehamilan
Menurut Manuaba (1998) dan Varney (2007) yang dilakukan pada pemeriksaan ulang kehamilan adalah :
1)      Anamnesis, yaitu keluhan hamil, fisiologis dan keluhan hamil patologis (Manuaba, 1998).
2)      Pemeriksaan fisik, yaitu dilakukan untuk mendeteksi berbagai tanda komplikasi dan untuk mengevaluasi kesejahteraan janin (Varney, 2007).
Pemeriksaan fisik dibagi menjadi dua, yaitu :
a)      Pemeriksaan Umum
1.      Kesan umum : composmentis, tampak sakit.
2.      Pemeriksaan : tekan darah, nadi, pernapasan, suhu, berat badan dan hal lain yang dipandang perlu.
b)      Pemeriksaan Fisik Umum
1.      Inspeksi : TFU, keadaan dinding abdomen dan gerak janin yang tampak.
2.      Palpasi menurut Kneble, Leopold, Buddin dan Ahfeld.
3.      Perkusi : meteorisme dan tanda cairan bebas.
4.      Auskultasi : bising usus, Djj, gerak janin intrauterin dan hal ini yang terdengar.
5.      Pemeriksaan dalam : pembukaan, perlunakan serviks, ketuban, penurunan bagian terendah, penempatan kombinasi, tumor yang menyertai bagian terendah dan pelvimetri panggu.
6.      Pemeriksaan tambahan : pemeriksaan laboratorium, USG, tes pemeriksaan air ketuban dan bateriologi.
2.1.4   Jadwal Kunjungan Ibu Hamil
Jadwal melakukan pemeriksaan Intenatal Care ANC) sebanyak 12 sampai 13 kali selama hamil. Di negara berkembang pemeriksaan antenatal care dilakukan sebanyak 4 kali sudah cukup sebagai kasus tercatat (Manuaba, 1998).
Menurut Mochtar (1998), jadwal pemeriksaan kehamilan dapat dilakukan :
1.           Pemeriksaan pertama kali yang ideal adalah sedini mungkin ketika haidnya terlambat satu bulan.
2.           Periksa ulang 1 x sebulan sampai kehamilan 7 bulan.
3.           Periksa ulang 2 x sebulan sampai kehamilan 9 bulan.
4.           Periksa ulang setiap minggu sesudah kehamilan 9 bulan.
5.           Periksa khusus bila ada keluhan-keluhan.
2.1.5   Kebijakan Program
Menurut Saifudin (2002), kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan, yaitu :
1.      Trimester I dan II
a.       Satu kali pada trimester I dan II.
b.      Diambil data tentang laboratorium.
c.       Pemeriksaan ultrasonografi.
d.      Nasehat diet tentang 4 sehat 5 sempurna.
e.       Nasehat diet tentang 4 sehat 5 sempurna.
f.       Observasi adanya penyakit yang dapat mempengaruhi komplikasi kehamilan.
g.      Rencana untuk pengobatan penyakit, menghindari terjadinya komplikasi kehamilan dan imunisasi tetanus 1.
2.      Trimester III
a.       Dua kali pada trimester III.
b.      Diet data laboratorium untuk melihat hasil pengobatan.
c.       Diet 4 sehat 5 sempurna.
d.      Pemeriksaan ultrasonografi.
e.       Imunisasi tetanus (TT).
f.       Observasi adanya penyakit yang menyertai kehamilan dan komplikasi kehamilan pada trimester III.
g.      Rencana pengobatan.
h.      Nasehat tanda-tanda inpartu dan kemana harus datang untuk melahirkan.
2.1.6   Pelayanan atau Asuhan Standar Minimal “7T”
Menurut Sarwono (2002), pelayanan atau asuhan standar minimal “7T” teridri dari :
1.      Timbang berat badan.
2.      Ukur tekanan darah.
3.      Ukur tinggi fudus uteri.
4.      Pemberian imunisasi Tetanus Toxoid (TT).
5.      Pemberian tablet zat besi (Fe).
6.      Tes terhadap penyakit seksual (PMS).
7.      Temu Wicara.
2.1.7   Kebijakan Tekhnis
Penatalaksanaan ibu hamil secara keseluruhan meliputi komponen-komponen sebagai berikut :
1.      Mengupayakan kehamilan yang sehat.
2.      Melakukan deteksi dini komplikasi, melakukan penatalaksanaan awal serta rujukan bila diperlukan.
3.      Persiapan persalinan yang bersih dan aman.
4.      Perencanaan antisipasi dan persiapan dini untuk melakukan rujukan jika terjadi komplikasi (Saifudin, 2002).
2.2         Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemeriksaan Kehamilan yang Diteliti
2.2.1   Sikap
Sikap adalah reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulasi atau objek (Azwar, 2003).
Menurut Notoatmodjo (2005: 122), sikap seseorang itu mencerminkan dari pendapatannya atau pendapat seseorang merupakan pernyataan dari sikap.
Menurut penelitian Linda Fakultas Kesehatan Masyarakat (2004), memahami sikap merupakan perawatan pemeriksaan kehamilan (antenatal care) merupakan hal yang penting untuk mengetahui dampak kesehatan bayi dan si ibu sendiri, fakta berbagai kalangan masyarakat di Indonesia, masih banyak ibu-ibu yang menganggap kehamilan sebagai hal yang biasa, alamiah, kodrati. Mereka merasa tidak perlu memeriksakan dirinya secara rutin ke bidan ataupun ke dokter.
Menurut penelitian Ferryefendi (2007), bahwa untuk bersikap sehat masyarakat memerlukan sarana prasana pendukung, misalnya : sikap pemeriksaan kehamilan ibu yang mau periksa hamil tidak hanya karena ia tahu dan sadar manfaat pemeriksaan kehamilan saja, melainkan ibu tersebut dengan mudah harus dapat memperoleh fasilitas atau tempat periksa hamil, misalnya : Puskesmas, Polindes, Bidan Praktik, atau Rumah Sakit.
2.2.2   Pengetahuan
Pengetahuan adalah khasanah kekayaan mental secara langsung atau tidka langsung turut memperkaya kehidupan kita (Notoatmodjo, 2000).
Menurut penelitian yang dilakukan Ferryefendi (2007), bahwa pemeriksaan kesehatan bagi ibu hamil diperlukan pengetahuan dan kesadaran ibu tersebut tentang manfaat pemeriksaan kehamilan baik bagi kesehatan ibu sendiri dan janinnya. Disamping itu kadang-kadang kepercayaan, tradisi dan sistem nilai masyarakat itu juga dapat mendorong atau menghambat ibu untuk periksa hamil misalnya : orang hamil tidak boleh disuntik (periksa hamil termaksud memperoleh suntikan antio tetanus) karena suntikan bisa menyebabkan anak cacat.
Menurut penelitian Syamsulhuda BM, dkk (2008) responden yang kebanyakan berpendidikan SD pada umumnya mempunyai tingkat pengetahuan yang kurang terhadap manfaatnya, ini dapat dilihat lebih dari 50% responden tidak dapat menjawab pertanyaan mengenai pengetahuan ANC.
2.3         Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemeriksaan Kehamilan tidak Diteliti
2.3.1   Pendidikan
Menurut Sri Astuti (2007), bahwa beberapa faktor yang melatarbelakangi risiko kematian di atas adalah kurangnya partisipasi masyarakat yang disebabkan tingkat pendidikan ibu rendah, kemampuan ekonomi keluarga rendah, kedudukan sosial budaya yang tidak mendukung.
Sedangkan menurut Wiludieng (2007), bahwa rendahnya pendidikan ibu akan berdampak pada rendahnya pengetahuan ibu yang berpengaruh pada keputusan ibu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Makin rendah pengetahuan ibu, makin sedikitnya keinginannya untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan.
2.3.2   Fisik
Seorang ibu hamil dipengaruhi oleh status kesehatan dan status gizi ibu dan status kesehatan dapat diketahui dengan pemeriksaan diri dan kehamilannya ke pelayananan kesehatan terdekat seperti Puskesmas, rumah bersalin atau poliklinik kebidanan, karena manfaat pemeriksaan kehamilan sangat besar, maka dianjurkan kepada ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya secara rutin di tempat pelayanan kesehatan terdekat.
Selain itu gizi ibu hamil juga merupakan hal yang sangat berpengaruh selama masa kehamilan. Kekurangan gizi tentu saja akan menyebabkan akibat yang buru bagi ibu dan janin (Kespro, 2007).
2.3.3   Psikologis
Faktor psikologis yang turut mempengaruhi kehamilan, misalnya stress yang terjadi pada ibu hamil dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan janin. Jani dapat mengalami keterhambatan perkembangan atau gangguan emosi saat lahir nanti jika stress pada ibu tidak tertangani dengan baik (Kespro, 2007).
2.3.4   Dukungan Keluarga
Merupakan andil yang besar dalam menentukan status kesehatan ibu. Jika seluruh keluarga mengharap kehamilan, mendukung bahkan memperhatikan dukungannya dalam berbagai hal, maka ibu hamil akan merasa lebih percaya diri, lebih bahagia dan siap dalam menjalani kehamilan, persalinan dan masa nifas (Kespro, 2007).
2.3.5   Ekonomi
Keluarga dengan ekonomi yang cukup dapat memeriksakan kehamilannya secara rutin, merencakan persalinan di tenaga kesehatan dan melakukan persiapan lainnya dengan baik. Namun dengan adanya perencanaan yang baik sejak awal, membuat tabungan bersalin, maka kehamilan dan proses persalinan dapat berjalan dengan baik (Kespro, 2007).
2.3.6   Lingkungan Sosial
Gaya hidup sehat adalah gaya hidup yang digunakan ibu hamil. Seorang ibu hamil sebaiknya tidak merokok, bahkan kalau perlu selalu menghindari asap Rokok, kapan dan dimanapun ia berada (Kespro, 2007).
2.3.7   Adat Istiadat
Perilaku makan juga harus diperhatikan, terutama yang berhubungan dengan adat istiadat. Jika adat makan yang dipantang adat, padahal baik untuk gizi ibu hamil maka sebaiknya tetap dikonsumsi (Kespro, 2007).

No comments:

Post a Comment

Bidan dan Perawat

Google+ Followers