Wednesday, April 10, 2013

HUBUNGAN ANTARA UMUR IBU, PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS SWAKELOLA MERDEKA PALEMBANG TAHUN 2008


BAB I
PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang

Anemia adalah menurunnya kadar hemoglobin dalam darah,yang dapat menyebabkan kematian maternal dan neonatal. Berdasarkan data organisasi kesehatan dunia (WHO) menyebutkan dua milyar penduduk dunia terkena anemia. Tanda-tanda anemia antara lain kulit pucat, rasa lelah, napas pendek, kuku muda pecah, kurang selera makan dan sakit kepala sebelah kanan. Namun, terkadang tidak ada keluhan bila pasien mengalami anemia ringan (Syafrizal, 2004).
Menurut WHO, kejadian anemia hamil berkisar antara 20% sampai 89% dengan menempatkan Hb 11 gr% sebagai alasan. Selain itu daerah kekurangan gizi. Kehamilan dan persalinan dengan jarak yang berdekatan dan ibu hamil dengan pendidikan dan tingkat sosial ekonomi rendah (Manuaba, 1998).
Penyebab kematian tertinggi adalah perdarahan, keracunan kehamilan dan infeksi. Salah satu dari beberapa faktor tidak langsung penyebab kematian ibu adalah anemia. Pada wanita hamil, anemia meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan (Notobroto, 2007).
Menurut SKRT (1995) dalam profil kesehatan kota Bogor (2002) angka anemia ibu hamil yaitu 51,8% pada trimester I, 58,2% pada trimester II dan 49,4% pada trimester III. Adapun penyebab tidak langsung kesakitan dan kematian  ibu adalah kejadian anemia pada ibu hamil sekitar 51% dan pada ibu nifas 45% serta karena kurang energi protein (Depkes, 2003).
Kematian ibu 15-20% secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan anemia. Menurut penelitian Chi, dkk, menunjukkan bahwa angka kematian ibu di Indonesia adalah 70% menderita anemia dan 19,7% tidak menderita anemia  (Ridwan, 2007).
Anemia lebih sering dijumpai dalam kehamilan. Hal ini disebabkan karena dalam kehamilan keperluan akan zat-zat makanan. Bertambah dan terjadi pada perubahan-perubahan dalam darah dan sum-sum tulang belakang (Wiknjosastro, 2002).
Berdasarkan hasil pemeriksaan kadar Hb pada ibu hamil yang dilakukan di Balai Laboratorium Kesehatan Palembang ternyata dari 300 responden dan yang kadar hemoglobinnya normal sebanyak 79,33% dan responden yang mengalami anemia (Hb kurang dari 11 gram/%) sebanyak 20,67% (Survey Cepat Anemia Gizi Ibu Hamil di Kota Palembang dalam Adventy Elizabeth, 2007).
Faktor-faktor resiko penyebab anemia pada ibu hamil erat hubungannya dengan umur, pendidikan, pekerja berat dan konsumsi tablet Fe < 90 butir (Amiruddin dkk, 2007). Sedangkan menurut penelitian Amiruddin (2004) adapun faktor-faktor yang berhubungan dengan anemia pada ibu hamil yaitu jarak kelahiran dan umur ibu.
Berdasarkan hal-hal di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti hubungan antara umur ibu, pendidikan dan pengetahuan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Swakelola Merdeka tahun 2008.

1.2        Rumusan Masalah

Apakah ada hubungan antara umur ibu, pendidikan dan pengetahuan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Swakelola Merdeka tahun 2008?

1.3        Tujuan Penelitian

1.3.1  Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara umur ibu, pendidikan dan pengetahuan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Poli KIA Puskesmas Swakelola Merdeka          tahun 2008.
1.3.2   Tujuan Khusus
1.      Mengetahui distribusi frekuensi umur ibu dengan kejadian anemia dalam kehamilan di Poli KIA Puskesmas Swakelola Merdeka tahun 2008.
2.      Mengetahui  distribusi frekuensi pendidikan ibu dengan kejadian anemia dalam kehamilan di Poli KIA Puskesmas Swakelola Merdeka tahun 2008.
3.      Mengetahui distribusi frekuensi pengetahuan ibu dengan kejadian anemia dalam kehamilan di Poli KIA Puskesmas Swakelola Merdeka tahun 2008.
4.      Mengetahui hubungan umur ibu dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Poli KIA Puskesmas Swakelola Merdeka tahun 2008.
5.      Mengetahui hubungan pendidikan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Poli KIA Puskesmas Swakelola Merdeka tahun 2008.
6.      Mengetahui hubungan pengetahuan ibu dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Poli KIA Puskesmas Swakelola Merdeka tahun 2008.

1.4        Manfaat Penelitian

            Bagi penulis
Untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai hubungan antara umur ibu, pendidikan dan pengetahuan dengan kejadian anemia pada ibu hamil.
            Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai suatu wadah dalam memberikan informasi dan pengetahuan ilmu kebidanan kepada masyarakat umum tentang kejadian anemia dalam kehamilan.
            Bagi Institusi Kesehatan
Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk meningkatkan pelayanan dan penyuluhan bagi ibu hamil agar sering memeriksakan kehamilannya sehingga dapat mendeteksi anemia secara dini.
            Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada umur ibu, pendidikan dan pengetahuan yang berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Poli KIA Puskesmas Swakelola Merdeka yang akan dilaksanakan pada bulan Mei tahun 2008. 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1         Konsep dasar anemia dalam kehamilan

2.1.1   Pengertian Kehamilan
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir (Sarwono, 2002: 89).
Kehamilan dibagi atas 3 triwulan (Trimester)
1.      Kehamilan triwulan I, antara 0 – 12 minggu
2.      Kehamilan triwulan II, antara 12 – 12 minggu
3.      Kehamilan triwulan III, antara 28 – 40 minggu
(Mochtar, 1998).

2.1.2   Pengertian Anemia
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin               di bawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar < 10,5gr% pada trimester II (Sarwono, 2002).
Anemia merupakan keadaan menurunnya kadar hemoglobin ,hematokrit dan jumlah sel darah merah di bawah nilai normal yang di patok untuk perorangan.(Arisman, 2004).
2.1.3   Gejala dan Tanda Anemia
Anemia dapat menimbulkan tanda dan gejala sebagai berikut :
1.      Lelah dan mengantuk
2.      Pusing dan lemah
3.      Sakit kepala
4.      Rasa tidak enak di lidah
5.      Kulit pucat
6.      Kuku tangan pucat
7.      Hilang nafsu makan, mual dan muntah
(Varney, 2004)

2.1.4   Etiologi
Etiologi anemia pada kehamilan,yaitu :
1.      Defisiensi anemia
2.      Infeksi seperti cacing tambang malaria, HIV
3.      Kekurangan asam folate (Manuaba, 2001)
2.1.5   Diagnosis Anemia
Anemia (kekurangan darah) pada ibu hamil dapat ditemukan tanda seperti wajah pucat pasi, mata merah dan telapak tangan pucat, cepat lelah, lemah dan lesu (Nedasul, 2006).
Pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat sahli. Hasil pemeriksaan Hb dengan sahli dapat digolongkan: Hb 11 gr% tidak anemia, 9-10 gr% anemia ringan, 7-8 gr% anemia sedang, dan < 7 gr% anemia berat (Manuaba, 1998).
2.1.6   Pembagian Anemia Dalam Kehamilan
1.      Anemia Defisiensi Besi
Anemia defisiensi besi adalah anemia karena turunnya cadangan besi tubuh sehingga proses eritroposis terganggu dan dapat menurunkan ukuran Hb darah dengan berbagai akibatnya (Manuaba, 2001).
2.      Anemia Megaloblastik
Anemia megaloblastik adalah anemia karena kekurangan asam folate (Manuaba, 2001).
3.      Anemia Hipolastik
Anemia hipoplasma adalah akibat dari depresi aktivitas kemotopoetik pada sum-sum tulang. Anemia hipoplastik dapat disebabkan oleh infeksi paravovirus (Pilliteri Adelle, 2002).
4.      Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik disebabkan penghancuran atau pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya disebabkan oleh faktor intrakorpuskuler dan faktor ekstrakoposkuler (Sarwono, 2002).

2.2         Pengaruh Anemia

2.2.1   Pengaruh Anemia Pada Kehamilan
Pengaruh anemia dalam kehamilan dapat terjadi abortus, partus prematurus, perdarahan antepartum (HAP), gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, dekompentatio kodis (Manuaba, 1998).
Seorang wanita hamil yang memiliki kadar Hb < 10 gr/% disebut menderita anemia dalam kehamilan. Anemia pada kehamilan atau kekurangan kadar Hb dalam darah dapat menyebabkan komplikasi yang lebih serius bagi ibu baik dalam kehamilan, persalinan dan nifas yaitu dapat mengakibatkan abortus, partus karena prematurus, partus lama karena inersia uteri, perdarahan post partum karena atonia berat, syok, infeksi intra partum maupun post partum. Anemia berat dengan Hb kurang dari 4 gr% dapat mengakibatkan dekompentatio cardis (Wiknjosastro, 2005).

2.2.2   Pengaruh Anemia Pada Persalinan
Pengaruh anemia pada saat persalinan dapat terjadi gangguan his primer dan sekunder, janin lahir dengan anemia, atonia uteri, retensio plasenta dan gangguan involusi uteri (Manuaba, 2001).
2.2.3   Pengaruh Anemia Pada Nifas
Pengaruh anemia terhadap nifas antara lain terjadi subinvolusi uteri menimbulkan perdarahan post partum, memudahkan infeksi puerperium, pengeluaran ASI berkurang, terjadi dekompensusi kurdis mendadak setelah persalinan, anemia kala nifas dan mudah terjadi infeksi mammae (Manuaba, 1998).
2.2.4   Pengaruh Anemia Pada Janin
Sekalipun tampaknya janin mampu menyerap berbagai kebutuhan metabolisme tubuh sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim.
Akibat anemia dapat terjadi gangguan dalam bentuk terjadinya abortus, kematian intra uterine, persalinan prematuritas tinggi, BBLR, dapat terjadi cacat bawaan dan bayi mudah terkena infeksi (Manuaba, 1998).
2.2.5   Pencegahan Anemia
Pencegahan anemia dapat dilakukan dengan 4 pendekatan yaitu :
1.      Pemberian tablet dan suntikan zat besi
2.      pendidikan dan upaya yang ada peningkatannya dengan peningkatan asupan zat besi melalui makanan.
3.      Pengawasan penyakit infeksi.
4.      Portifikasi makanan pokok dengan zat besi.
(Arisman, 2004)

2.3                    Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Anemia pada Ibu Hamil

2.3.1   Variabel yang Diteliti
1.      Umur ibu
Wanita yang berumur kurang dari 20 tahun atau lebih dari                    35 tahun mempunyai resiko yang tinggi untuk hamil, karena akan membahayakan kesehatan dan keselamatan ibu hamil maupun janinnya, berisiko mengalami pendarahan dan dapat menyebabkan ibu mengalami anemia (Ridwan, 2007).
Menurut penelitian yang dilakukan Amiruddin dkk (2007), faktor yang mempengaruhi status anemia adalah umur, tingkat pendidikan, pekerja berat dan konsumsi tablet Fe < 90 butir. Sedangkan berdasarkan umur kawin pertama menurut L. Tobing (2008), prevalensi wanita baik yang anemia maupun tidak anemia berumur antara 18-25 tahun yaitu 13,3% anemia dan 34% pada kelompok yang tidak anemia.
2.      Pendidikan
Pada beberapa pengamatan menunjukkan bahwa kebanyakan anemia yang diderita masyarakat adalah karena kekurangan zat besi banyak dijumpai di daerah pedesaan dengan malnutrisi atau kekurangan gizi, kehamilan dan persalinan dengan jarak yang berdekatan dan ibu hamil dengan pendidikan dan tingkat sosial ekonomi rendah (Manuaba, 1998).
Menurut penelitian yang dilakukan  Amiruddin dkk (2007), faktor yang mempengaruhi status anemia adalah umur, tingkat pendidikan rendah, pekerja berat dan konsumsi tablet Fe < 90 butir, sedangkan berdasarkan tingkat pendidikan menurut L. Tobing (2008) prevalensi anemia tertinggi di jumpai pada wanita dengan tingkat pendidikan SD dan SLTP (19,6%).
3.      Pengetahuan
Pengetahuan kesehatan reproduksi manyangkut pemahaman tentang pentingnya permeriksaan kehamilan, penyuluhan, tanda dan cara mengatasi anemia pada ibu hamil diharapkan dapat mencegah ibu hamil dari anemia (Nina Herlina, 2007).
Menurut Notoatmodjo dalam Andriyani (2005) pengetahuan yaitu suatu hasil dari hasil tahu yang terjadi setelah seseorang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu yaitu melalui indra penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan dan perabaan. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui penglihatan dan pendengaran (Elizabeth, 2007).
2.3.2   Variabel yang tidak Diteliti
1.      Kepatuhan Konsumsi Tablet Fe
Kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe diukur dari ketepatan jumlah tablet Fe yang dikonsumsi, ketepatan cara mengkonsumsi tablet Fe              dan frekuensi konsumsi perhari. Suplementasi besi atau pemberian tablet Fe merupakan salah satu upaya penting dalam mencegah dan menganggulangi anemia, khususnya anemia kekurangan besi. Suplementasi besi merupakan cara efektif karena kandungan besinya yang dilengkapi asam folat yang sekaligus dapat mencegah anemia karena kekurangan asam folat (Nina Herlina, 2006).
2.      Paritas
Paritas adalah jumlah anak yang telah dilahirkan oleh seorang ibu baik lahir hidup maupun lahir mati. Paritas 1 dan paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai angka kematian maternal yang tinggi. Resiko pada paritas 1 dapat dikurangi dengan memberikan asuhan obstetrik yang lebih baik, sedangkan pada paritas tinggi dapat dicegah atau dikurangi dengan keluarga berencana (Wiknjosastro, 2005).

No comments:

Post a Comment

Bidan dan Perawat

Google+ Followers