Wednesday, April 3, 2013

HUBUNGAN ANTARA UMUR IBU DAN UMUR KEHAMILAN DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT Dr. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG TAHUN 2009


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Menurut World Organization Health (WHO) setiap tahun diperkirakan 4 juta bayi meninggal pada tahun pertama kehidupannya dan dua pertiganya meninggal pada bulan pertama. Dua per tiga dari yang meninggal pada bulan pertama meninggal pada minggu pertama dua per tiga dari yang meninggal pada hari pertama. Penyebab utama kematian pada minggu pertama kehidupan adalah komplikasi kehamilan dan persalinan seperti asfiksia, sepsis, dan komplikasi berat badan lahir rendah, kurang lebih 99% kematian                ini terjadi di negara berkembang dan sebagian besar kematian ini                  dapat dicegah dengan pengenalan dini dan pengobatan yang tepat (http://rtnet-mess.blogspot.com).
Di negara ASEAN kesehatan dan keselamatan ibu dan bayi cukup memprihatinkan. Angka Kematian Ibu (AKI) mencapai angka 470 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini adalah yang tertinggi di seluruh negara ASEAN. Faktor penyebab tingginya AKI diakibatkan kasus pendarahan dan Angka Kematian Bayi (AKB) adalah 30,8 per 1.000 kelahiran hidup. Komplikasi penyebab kematian bayi baru lahir disebabkan asfiksia (www.rogeg.depkes.go.id).
Di negara Indonesia Angka Kematian Ibu (AKI) sebesar 261 per 100.000 kelahiran hidup dengan penyebab kematian tertinggi adalah pendarahan. Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 4,01 per 1.000 kelahiran hidup dengan penyebab kematian tertinggi adalah asfiksia (http://rtnet-mess.blogspot.com).
Angka Kematian Ibu (AKI) Sumatera Selatan Tahun 2008 jauh dari Angka Nasional yaitu 472 per 100.000 Kelahiran hidup dan turun  sebesar 5 per 100.000 kelahiran hidup pada tahunn 2004 menjadi 467 per 100.000 kelahiran hidup. Dibandingkan dengan Propinsi lain, angka ibu jauh di atas Jawa Barat yaitu 274 per 100.000 kelahiran hidup, tapi di bawah Nusa Tenggara Timur yaitu 688 per 100.000 kelahiran hidup (Mahyudin, 2006).
Menurut data Dinas Kesehatan 2008, tentang data kesehatan Propinsi Sumatera Selatan terdapat Angka Kematian Ibu (AKI) dari 53 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) dari 4 per 1.000 kelahiran hidup (Dinkes, 2008).
Departemen Kesehatan Republik Indonesia memperkirakan Angka Kematian Bayi adalah 35 per 1.000 kelahiran hidup. Departemen Kesehatan (Depkes) menargetkan, pada tahun 2008 AKI menjadi 226 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB sekitar 10 per 100.000 kelahiran hidup. Sementara AKB di Indonesia mencapai 35/1.000 kelahiran hidup atau dua kali lebih besar dari target WHO sebesar 15/1.000 kelahiran hidup, itu artinya dalam satu tahun sekitar 175.000 bayi meninggal sebelum mencapai usia satu tahun. Keadaan ini menempatkan upaya kesehatan ibu dan bayi baru lahir menjadi upaya prioritas dalam bidang kesehatan.
Asfiksia neonatorum adalah keadaan dimana bayi yang baru                 lahir tidak segera bernapas secara spontan dan teratur segera setelah  lahir (Mochtar, 2005).
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum lahir umumnya akan mengalami asfiksia pada saat dilahirkan. Masalah ini erat hubungannya dengan gangguan kesehatan ibu hamil. Kelainan tali pusat, atau masalah yang mempengaruhi kesejahteraan bayi selama atau sesudah persalinan (Poned Bayi Baru Lahir dengan Asfiksia, 2007).
Berdasarkan latar belakang masalah di atas penulis tertarik untuk meneliti tentang “Hubungan antara umur ibu dan umur kehamilan dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Pusat                    Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2008”.

1.2    Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan antara umur ibu dan umur kehamilan            dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2008?

1.3    Tujuan Penelitian
1.3.1        Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara umur ibu dan umur kehamilan dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2009.

1.3.2        Tujuan Khusus
1.      Diketahuinya hubungan antara umur ibu dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2009.
2.      Diketahuinya hubungan antara umur kehamilan dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Pusat                 Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2009.

1.4    Manfaat Penelitian
1.4.1        Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi pengetahuan dan sebagai bahan referensi perpustakaan khususnya bagi mahasiswa Akademi Kebidanan dan mahasiswa program studi kesehatan lainnya.

1.4.2        Bagi Tenaga Kesehatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi tenaga kesehatan untuk meningkatkan upaya pelayanan kesehatan yang menyeluruh dan bermutu di tengah masyarakat serta dapat mengantisipasi terjadi asfiksia neonatorum sehingga dapat tercapai bayi sehat yang mempunyai potensi maksimal untuk tumbuh dan berkembang.

1.4.3        Bagi Peneliti
Dengan adanya penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman dalam menerapkan ilmu yang didapat selama belajar dan memahami hubungan antara umur ibu dan umur kehamilan dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir.

1.5    Ruang Lingkup
Objek yang diteliti    :   Ibu-ibu bersalin yang mengalami asfiksia                                              neonatorum.
Tempat penelitian      :   Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Umum Pusat                  Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2008.
Waktu penelitian       :   Dilaksanakan pada bulan Mei – Juni 2009.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Asfiksia Neonatorum
2.1.1   Pengertian
Asfiksia Neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan, atau segera setelah lahir (Sarwono Prawirohardjo, 2005).
Asfiksia adalah dimana bayi baru lahir tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum lahir, umumnya akan mengalami asfiksia pada saat dilahirkan. Masalah ini erat hubungannya dengan gangguan kesehatan ibu hamil, kelainan tali pusat, atau masalah yang mempengaruhi kesejahteraan bayi selama atau sesudah persalinan.
(Poned Asuhan Persalinan Normal, 2007)

2.1.2   Etiologi
Asfiksia Neonatorum dapat terjadi selama kehamilan dan persalinan.
a.       Asfiksia dalam Kehamilan
Dapat disebabkan oleh penyakit infeksi akut atau kronis, keracunan obat bius uremi dan toksemia gravidarum, anemia berat, cacat bawaan atau trauma.
b.      Asfiksia dalam Persalinan
Dapat disebabkan oleh partus lama, Servik kaku dan Atonia/Inersia Uteri, Ruptura uteri yang membakat yang mengakibatkan kontraksi terus-menerus dan mengganggu sirkulasi darah ke plasenta, tekanan terlalu kuat dari kepala anak pada plasenta, prolapsus tali pusat yang akan tertekan antara kepala dan panggul, pemberian obat bius yang terlalu banyak misalnya plasenta previa dan solusio plasenta, kalau plasenta sudah tua dapat terjadi postmaturitas (serotinus) disfungsi uri. Dan selanjutnya yaitu pusat pernafasan akibat trauma dari luar seperti karena tindakan forceps atau trauma dari dalam seperti akibat obat bius (Mochtar, 2005).

2.1.3   Faktor Predisposisi Asfiksia Neonatorum
Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabkan gangguan sirkulasi darah utero-plasenter sehingga pasokan oksigen ke bayi menjadi berkurang. Hipoksia bayi di dalam rahim ditunjukkan dengan gawat janin yang dapat berlanjut menjadi asfiksia bayi baru lahir.
Beberapa faktor tertentu diketahui dapat menjadi penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir, diantaranya adalah faktor ibu, tali pusat dan bayi berikut ini :


2.1.4   Faktor Ibu
1.      Preeklampsia dan eklampsia
2.      Pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
3.      Partus lama atau partus macet
4.      Demam selama persalinan
5.      Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV)
6.      Kehamilan lewat waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)
7.      Penyakit ibu

2.1.5   Faktor Tali Pusat
1.      Lilitan tali pusat
2.      Tali pusat pendek
3.      Simpul tali pusat
4.      Prolapsus tali pusat

2.1.6   Faktor Bayi
1.      Bayi pramatur (sebelum 37 minggu kehamilan)
2.      Persalinan dengan letak sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi vakum, ekstraksi forsep)
3.      Kelainan bawaan
4.      Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan)
(Asuhan Persalinan Normal dan Inisiasi Menyusui Dini, 2007)

2.1.7   Gambaran Klinis Asfiksia Neonatorum
1.      Asfiksia Livida (Biru)
2.      Asfiksia Pallida (Putih)
Tabel 2.1
Perbedaan Asfiksia Pallida dan Asfiksia Livida
Perbedaan
Asfiksia Pallida
Asfiksia Livida
Warna kulit
Pucat
Kebiru-biruan
Tonus otot
Sudah kurang
Masih baik
Reaksi rangsangan
Negatif
Positif
Bunyi jantung
Tak teratur
Masih teratur
Prognosis
Jelek
Lebih baik


2.1.8   Prognosis Asfiksia Neonatorum
Asfiksia livida lebih baik dari asfiksia pallida, prognosis pada kekurangan O2 dan luasnya pendarahan dalam otak bayi. Bayi yang dalam keadaan asfiksia dan pulih kembali harus dipikirkan kemungkinannya menderita cacat mental seperti epilepsi dan bodoh pada masa mendatang (Mochtar, 2005).

2.1.9   Diagnosis Asfiksia Neonatorum
Diagnosis hipoksia janin dapat dibuat dalam persalinan dengan ditemukannya tanda-tanda gawat janin. Tiga hal perlu mendapat perhatian :
a.     Denyut jantung janin
Frekuensi normal adalah antara 120 sampai 160 denyut per menit, selama his frekuensi ini bisa turun, tetapi di luar his kembali lagi kepada keadaan semula. Peningkatan kecepatan denyut jantung umumnya tidak besar artinya, akan tetapi apabila frekuensi turun sampai 100x semenit di luar his dan lebih-lebih jika tidak teratur, hal itu merupakan tanda bahaya.
b.     Mekanisme dalam air ketuban
Mekoneum pada presentasi-sungsang tidak ada artinya, akan tetapi pada presentasi kepala mungkin menunjukkan gangguan oksigenasi dan harus menimbulkan kewaspadaan. Alasannya mekoneum dalam air ketuban pada presentasi-presentasi kepala dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri persalinan bila hal itu dapat dilakukan dengan mudah.
c.     Pemeriksaan Ph darah janin
Dengan menggunakan amnioskopi yang dimasukkan lewat serviks dibuat sayatan kecil pada kulit kepala janin dan diambil contoh darah janin. Darah ini diperiksa Ph-nya. Adanya asidosis menyebabkan turunnya pH. Apabila pH itu sampai turun dibawah 7,2 hal itu dianggap sebagai tanda bahaya oleh beberapa penulis.
(Sarwono Prawirohardjo, 2005).

2.1.10    Nilai APGAR Bayi Baru Lahir
Tabel 2.2
Nilai APGAR Bayi Baru Lahir
Tanda
0
1
2
Frekuensi jantung
Tidak ada
Kurang dari 100/ menit
Lebih dari 100/ menit.
Usaha bernafas
Tidak ada
Lambat, tidak teratur
Menangis kuat
Tonus otot
Lumpuh
Ekstremitas fleksi sedikit
Gerakan aktif
Refleks
Tidak ada
Gerakan sedikit
menangis
Warna
Biru/pucar
Tubuh kemerah-merahan
Tubuh dan ekstremitas kemerahan
2.1.11     Klasifikasi Klinik Nilai APGAR
1.      Berat (Nilai APGAR 0-3)
2.      Memerlukan resusitasi secara aktif dan pemberian oksigen terkendali karena selalu disertai asidosis, maka perlu diberikan bikarbonat 7,5% dengan dosis 2,4 ml/kg berat badan, dan cairan glukosa 40% 1-2 ml/kg diberikan melalui vena umbilikus.
3.      Asfiksia Sedang (Nilai APGAR 4-6)
4.      Memerlukan resusitasi dan pemberian oksigen sampai bayi dapat bernafas normal kembali.
5.      Bayi Normal atau Sedikit Asfiksia (Nilai APGAR 7-9)
6.      Bayi Normal dengan Nilai APGAR10 (Mochtar, 1998)

2.1.12     Penatalaksanaan
1.      Persiapan Alat Resusitasi
a.       2 helai kain/handuk
b.      Bahan ganjal bahu bayi. Bahan ganjal dapat berupa kain, kaos, selendang, handuk kecil, digulung setinggi 5 cm dan mudah disesuaikan untuk mengatur posisi kepala bayi.
c.       Alat penghisap lendir De Lee atau bola karet
d.      Tabung dan sungkup atau balon dan sungkup neonatal
e.       Kotak alat resusitasi
f.       Jam atau pencatata waktu

2.      Langkah Awal (dilakukan dalam 30 detik)
a.       Jaga bayi agar  tetap hangat
b.      Atur posisi bayi
c.       Isap lendir
d.      Keringkan dan rangsang taktil
e.       Reposisi
f.       Penilaian apakah bayi menangis atau bernafas spontan dan teratur ?

3.      Asuhan Bayi Pasca Resusitasi meliputi :
a.       Jaga bayi agar tetap hangat
b.      Lakukan pemantauan
c.       Konseling
d.      Pencatatan

4.      Asuhan Pasca Resusitasi
Asuhan pasca resusitasi diberikan sesuai dengan keadaan bayi setelah menerima tindakan resusitasi.
Asuhan resusitasi dilakukan dalam keadaan :
a.       Resusitas berhasil : Bayi menangis dan bernapas normal sesudah langkah awal atau sesudah ventilasi. Perlu pemantauan dan dukungan.
b.      Resusitas tidak/kurang berhasil, bayi perlu rujukan yaitu sesudah ventilasi 2 menit belum bernafas atau bayi sudah bernafas tetapi masih megap-megap atau pada pemantauan ternyata kondisinya makin memburuk.
c.       Resusitasi gagal : setelah 20 menit di ventilasi, bayi gagal bernafas.
(Asuhan Persalinan Normal dan Inisiasi Menyusui Dini, 2007)

2.2    Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Asfiksia Neonatorum yang diteliti
2.2.1   Umur Ibu
Pada waktu hamil sangat berpengaruh pada kesiapan ibu untuk menerima tanggung jawab sebagai seorang ibu sehingga kualitas sumber daya manusia makin meningkat dan kesiapan untuk menyehatkan generasi penerus dapat terjamin.
Kehamilan di usia muda/remaja (di bawah usia 20 tahun) akan mengakibatkan rasa takut terhadap kehamilan dan persalinan, hal ini        dikarenakan pada usia tersebut ibu mungkin belum siap untuk mempunyai  anak dan alat-alat reproduksi ibu belum siap untuk hamil. Begitu juga kehamilan di usia tua (di atas 35 tahun) akan menimbulkan kecemasan terhadap kehamilan dan persalinan serta alat-alat reproduksi ibu terlalu tua untuk hamil di dalam ukuran umum reproduksi yang sehat dikenal bahwa usia aman kehamilan 20-30 tahun (Prawirohardjo, 2004).

2.2.2   Umur Kehamilan
2.2.2.1  Kehamilan Preterm
Kehamilan preterm adalah kehamilan di bawah umur kehamilan 37 minggu dengan perkiraan berat janin kurang dari 2.500 gram, resiko pada persalinan preterm adalah tingginya angka kematian perinatal yang di sebabkan karena Hyalin membrane disease, dan penyulit yang di hadapi antara lain kejadian asfiksia neonatorium. Yang di sebabkan                        karena pemasukan oksigen dan makanan atau nutrisi yang kurang adekuat dari plesenta kejanin pada kehamilan (Wiknjasastro, 2005).

2.2.2.2  Kehamilan Aterm
Kehamilan aterm adalah usia kehamilan antara 38-42 minggu dan ini merupakan periode dimana terjadi persalinan normal (Wiknjosastro, 2005).

2.2.2.3  Kehamilan Post-Term
Kehamilan post-term ialah kehamilan yang melewati 294 hari atau lebih dari 42 minggu. Angka kejadian kehamilan  post-term kira-kira 10% bervariasi antara 3,5-14% kekhawatiran dalam menghadapi kehamilan post-term adalah meningkatnya resiko kematian, dan kematian perinatal post-term dapat menjadi 3 kali dibandingkan kehamilan aterm. Kehamilan post-term telah terjadi pada 30% sebelum persalinan 55% dalam persalinan dan 15% post-natal. Penyebab utama kematian perinatal ialah hipoksia dan aspirasi mekonium (Wiknjasastro, 2005).
2.3    Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Asfiksia Neonatorum yang tidak diteliti
2.3.1   Plasenta Previa
Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagain atau seluruh permukaan jalan lahir.
Gejala perdarahan awal plasenta previa pada umumnya adalah berupa perdarahan bercak atau ringan dan umumnya berhenti secara spontan. Gejala tersebut kadang-kadang terjadi pada waktu bangun tidur, tidak jarang perdarahan pervaginam baru terjadi pada saat inpartu. Jumlah perdarahan yang terjadi sangat tergantung pada jenis plasenta previa (Saifuddin, 2005).
Komplikasi plasenta previa yaitu jika perdarahan dalam jumlah besar dapat menimbulkan gangguan pada janin (gerakan makin berkurang) sampai tidak terasa terjadi gangguan kehidupan asfiksia ringan sampai kematian dalam rahim.
Dan jika janin dapat diselamatkan biasanya akan                      terjadi persalinan prematur dan komplikasinya serta asfiksia berat (Saifuddin, 2005).

2.3.2   Solusio Plasenta
Solusio plasenta adalah plasenta yang terlepas dari tempat implantasinya yang normal pada uterus sebelum janin dilahirkan.
Defenisi ini berlaku pada kehamilan dengan masa gestasi          di atas 22 minggu atau berat janin di atas 500 gram. Proses solusio plasenta di mulai dengan terjadinya perdarahan dalam Desidua Basalis yang menyebabkan hematoma retro plasemter (Saifuddin, 2005).
Penyulit pada janin yaitu perdarahan yang tertimbun dibelakang plasenta mengganggu sirkulasi dan nutrisi ke arah janin sehingga dapat menimbulkan asfiksia ringan sampai berat dan kematian dalam rahim.
Kejadian asfiksia sampai kematian dalam rahim tergantung pada seberapa bagian plasenta telah lepas dari  implantasinya di fundus uteri dan lamanya solusio plasenta itu berlangsung.
Bila janin dapat diselamatkan, dapat terjadi komplikasi asfiksia berat badan lahir rendah dan sindrom gagal nafas
(Manjoer, 2005).

2.3.3   Preeklampsia Berat
Preeklampsia Berat adalah hipertensi disertai protein uria dan oedema akibat kehamilan setelah kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan.
Kejadian preeklampsia berat berkisar antara 3-5% dari kehamilan yang dirawat.



No comments:

Post a Comment

Bidan dan Perawat

Google+ Followers