Sunday, March 24, 2013

HUBUNGAN ANTARA PARITAS, UMUR, DAN PENDIDIKAN IBU DENGAN KEJADIAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM DI INSTALASI RAWAT INAP ZAAL KEBIDANAN RUMAH SAKIT UMUM PUSAT Dr. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG TAHUN 2007


BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Menurut World Health Organization (WHO) jumlah kematian ibu berkisar 500.000 persalinan hidup, sedangkan jumlah kematian perinatal sekitar 10 juta orang, angka kematian ibu (AKI) dapat diturunkan menjadi 300.000 orang, jika ibu hanya mempunyai 3 orang anak saja, sedangkan angka kematian perinatal (AKP) menjadi 5.600.000 orang dalam persalinan hidup. Dari jumlah kematian ibu dan perinatal tersebut, sebagian besar terjadi di negara berkembang karena kekurangan fasilitas, keterlambatan pertolongan dan keadaan sosial ekonomi dan pendidikan masyarakat rendah (Manuaba, 2008: 346).
Mortalitas dan morbiditas pada ibu hamil dan bersalin merupakan masalah besar di negara-negara berkembang, negara miskin sekitar 25-50% kematian wanita usia subur disebabkan kehamilan. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama mortalitas wanita pada masa puncak produksinya. Tahun 1996, World Health Organization (WHO) memperkirakan lebih dari 585.000 pertahunnya meninggal saat hamil dan persalinan (Saifuddin, 2006: 3).
 Angka kematian ibu (AKI) dalam kehamilan dan persalinan di seluruh dunia mencapai 515.000 jiwa setiap tahun, hampir 99% dari angka kematian terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia. Di Indonesia dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) dan data Biro Pusat Statistik (BPS) didapatkan angka kematian ibu pada tahun 1994 sebesar 390 per 100 ribu kelahiran hidup. Pada tahun 2003 angka kematian ibu mengalami penurunan sebesar 370 per 100 ribu kelahiran hidup, sedangkan target AKI yang ingin dicapai pada tahun 2010 sebesar 125 per 100 ribu kelahiran hidup (Nugraha, 2007). Sedangkan kematian ibu dalam komplikasi kehamilan dan persalinan              di Sumatera Selatan pada tahun 2006 tercatat 424 per 100 ribu kelahiran hidup (Ardiansyah, 2006), dan di Kota Palembang sendiri berdasarkan laporan indikator database 2005 UNFA tercatat 317 per 100 ribu kelahiran hidup, lebih rendah dari AKI Sumsel, sedangkan target yang diharapkan pada tahun 2010 sebesar 125 per 100 ribu kelahiran hidup (Depkes, 2006).
Kematian ibu artinya kematian seorang wanita pada saat hamil atau kematian yang terjadi dalam kurun waktu 42 hari sejak berhentinya Kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat bersalin. Tetapi bukan disebabkan kecelakaan. Penyebab utama kematian ibu di Indonesia dan negara-negara lain hampir sama, di antaranya akibat perdarahan (28%), eklampsia (24%), infeksi (11%), akibat persalinan lama (5%), dan abortus (5%). Perdarahan penyebab utama kematian ibu (Depkes, 2006). Setiap tahun terdapat 5,2 juta ibu melahirkan di Indonesia dan 15 ribu kematian ibu di antaranya mengalami komplikasi yang mengakibatkan kematian (Nugraha, 2007).
Salah satu komplikasi kehamilan di antaranya adalah hiperemesis gravidarum yang ditandai dengan mual muntah berlebihan, kehilangan berat badan dan gangguan keseimbangan elektrolit terjadi 1-2% pada kehamilan umumnya berlangsung hingga ke-20 minggu usia kehamilan dengan mual yang tidak terkendali serta muntah-muntah hampir 20 kali per hari (Wannabe, 2007).
Keluhan mual muntah dialami mayoritas ibu hamil, menurut Indra Anwar dari RS Bunda Jakarta memastikan sekitar 50-70% ibu mengalaminya, keluhan ini dikatakan wajar pada usia kehamilan 8-12 minggu dan berkurang secara bertahap hingga berhenti usia kehamilan 16 minggu, tidak sedikit ibu hamil yang masih mengalami mual muntah sampai trimester ketiga (Imam, 2008). Kurang lebih 66% wanita trimester pertama mengalami mual-mual dan 44% mengalami muntah-muntah. Insiden Hyperemesis Gravidarum 4:1.000 kehamilan sindrom ini ditandai mual muntah yang sering disebabkan menurunnya asam HCl lambung dan hipokalemia (Sastrawinata, 2005: 64).
Hyperemesis Gravidarum terjadi 60-80% primigravida dan 40-60% multigravida satu diantara 1000 kehamilan, gejala-gejala ini terjadi lebih berat perasaan mual disebabkan karena meningkatnya kadar estrogen dan HCG dalam serum gejala mual dan muntah berlangsung sampai 4 bulan dimana pekerjaan sehari-hari menjadi terganggu dan keadaan umum menjadi buruk (Winkjosastro, 2005: 275).
Hyperemesis Gravidarum dapat menyebabkan dehidrasi, turgor kulit berkukarang, hiponatremia dan selanjutnya terjadi hemokosentrasi hingga aliran darah kejaringan berkurang maka harus diatasi, hilang kan rasa takut karena kehamilan, kurangi pekerjaan serta hilangkan masalah dan konflik yang kiranya menjadi latar belakang penyakit ini karena Hyperemesis Gravidarum dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan perkembangan janin (Widnyana, 2007).
Berdasarkan data medical record di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang angka kematian ibu yang mengalami Hyperemesis Gravidarum pada tahun 2005 terdapat 48 orang dari 675 ibu hamil, pada tahun 2006 terdapat 62 orang dari 964 dan pada tahun 2007 terdapat …… orang dari ….. ibu hamil yang dirawat di Instalasi Rawat Inap Kebidanan.
Beberapa peneliti melaporkan bahwa banyak faktor yang berhubungan dengan Hyperemesis Gravidarum diantaranya adalah primigravida, molahidatidosa dan kehamilan ganda, dan faktor psikologis seperti keretakkan rumah tangga, status ekonomi yang rendah (Winkjosastro, 2005: 275).
Berdasarkan dari latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti “Hubungan antara paritas, umur, dan pendidikan ibu dengan Kejadian Hyperemesis Gravidarum di Instalasi Rawat Inap Zaal Kebidanan Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2007”.
1.2         Rumusan Masalah
Masih tingginya kejadian Hyperemesis Gravidarum (6,32%), apakah ada hubungan antara paritas, umur, dan pendidikan ibu dengan kejadian hiperemesis gravidarum yang dirawat inap di Zaal Kebidanan Rumah Sakit Umum Pusat        Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2007?
1.3         Tujuan Penelitian
1.3.1   Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara paritas, umur, dan pendidikan ibu dengan kejadian Hyperemesis Gravidarum yang dirawat inap di Zaal Kebidanan Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2007.
1.3.2   Tujuan Khusus
1.      Untuk mengetahui hubungan antara paritas ibu dengan kejadian hyperemesis gravidarum yang dirawat inap di Zaal Kebidanan Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2007.
2.      Untuk mengetahui hubungan antara umur ibu dengan kejadian hyperemesis gravidarum yang dirawat inap di Zaal Kebidanan Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2007.
3.      Untuk mengetahui hubungan antara pendidikan ibu dengan kejadian hyperemesis gravidarum yang dirawat inap di Zaal Kebidanan Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2007.
1.4         Manfaat Penelitian
1.4.1   Bagi Peneliti
Untuk menambah wawasan, pengetahuan dan pengalaman peneliti mengenai hiperemesis gravidarum serta sebagai salah satu pra syarat untuk mendapatkan gelar Ahli Madya Akademi Kebidanan Budi Mulai Palembang.
1.4.2   Bagi Institusi Rumah Sakit (RSMH)
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan informasi bagi petugas kesehatan khususnya di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohamma Hoesin Palembang serta dapat memberikan konseling untuk mengantisipasi terjadinya hiperemesis gravidarum pada ibu hamil.
1.4.3   Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai umpan balik dalam proses pembelajaran hingga dapat menunjang pengetahuan dan wawasan peserta didik serta dapat dilakukan penelitian lebih lanjut.

1.5         Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini semua ibu hamil yang dirawat di Zaal Kebidanan Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Palembang tahun 2007. Sedangkan  variabel yang diteliti adalah paritas, umur, dan pendidikan ibu dengan kejadian Hyperemesis Gravidarum.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu survei analitik dengan pendekatan Cross Sectional yang menggunakan data sekunder.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1        Konsep Dasar Hyperemesis Gravidarum
2.1.1  Definisi
Hyperemesis Gravidarum adalah mual muntah berlebihan sehingga menimbulkan gangguan aktivitas sehari-hari bahkan dapat membahayakan hidupnya (Manuaba, 2001: 397).
Hyperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah yang berkelanjutan sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari dan menimbulkan kekurangan cairan dan terganggunya keseimbangan elektrolit (Bagus, 2008).
Hyperemesis Gravidarum adalah muntah yang terjadi sampai umur kehamilan 20 minggu, begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga mempengaruhi keadaan umum dan pekerjaan sehari-hari, berat badan menurun, dehidrasi, terdapat aseton dalam urine, bukan karena penyakit Appendisitin, plelitis dan sebagainya (Maternitas, 2007).
Hyperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan sehingga menimbulkan gangguan aktifitas sehari-hari dan bahkan dapat membahayakan hidup ibu hamil (Manuaba, 2008: 55).
2.1.2  Etiologi
Etiologi Hyperemesis Gravidarum belum diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor predisposisi yang dapat dijabarkan sebagai berikut :
a.       Faktor adaptasi dan hormonal
Pada waktu hamil yang kekurangan darah lebih sering terjadi Hyperemesis Gravidarum dapat dimasukkan dalam ruang lingkup faktor adaptasi adalah wanita hamil dengan anemia, primigravida, hamil ganda, dan molahidatidosa.
b.      Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik.
Akibat hamil serta registensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan ini merupakan faktor organik.
c.       Alergi sebagai salah satu respon dari jaringan ibu terhadap anak juga disebut sebagai faktor organik.
d.      Faktor psikologik memegang peranan penting pada penyakit ini seperti keretakan rumah tangga, kehilangan pekerjaan yang dapat memperberat mual dan muntah.
(Wiknjosastro, 2005: 275)
2.1.3  Patologi
Dari bedah mayat dan otopsi pada wanita yang meninggal akibat Hyperemesis Gravidarum menunjukkan bahwa menunjukkan terjadinya kelainan pada organ-organ tubuh dan juga ditemukan pada malnutrisi oleh bermacam  sebab :
1.      Hepar
Pada Hyperemesis Gravidarum tanpa komplikasi hanya ditemukan degenerasi lemak sintrolobuler, kelainan lemak dan menyebabkan kematian dan dianggap sebagai muntah yang terus-menerus, dan penderita meninggal karena Hyperemesis Gravidarum menunjukkan mikroskopik hati yang normal.
2.      Jantung
Jantung atropi lebih kecil dari biasa dan beratnya sejalan dengan lamanya penyakit, kadang kala dijumpai perdarahan sub-endokardial.
3.      Otak
Terdapat bercak-bercak perdarahan pada otak dan kelainan seperti pada ensupalopati wernicke dapat dijumpai (dilatasi kapiler dan perdarahan kecil  di daerah karpora mamilaria ventrikel ketika dan keempat).
4.      Ginjal
Tampak pucat, degenerasi lemak pada tubuli kontorti.
(Prawirohardjo, 2005: 276)
2.1.4  Fatofisiologi
Perasaan mual dan muntah akibat kadar estrogen meningkat, mual dan muntah terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi, hiponatremia, hipokioremia, penurunan klorida urin, selanjutnya terjadi hemokosentrasi yang mengurangi perfusi darah ke jaringan dan menyebabkan tertimbunnya zat organik, hipoklemia akibat muntah dan ekspresi yang berlebihan menambah frekuensi muntah dan merusak hepar, selaput lendir esofagus dan lambung dapat robek sehingga terjadi perdarahan gastrointestinal (Masjoer, 2001: 259).
Ada yang menyatakan bahwa perasaan mual adalah akibat kadar estrogen meningkat, oleh karena itu keluhan ini terjadi pda trimester pertama mungkin berasal dari sistem syaraf atau akibat kekurangan pengosongan lambung. Penyesuaian dapat terjadi pada kebanyakan wanita hamil meskipun demikian mual dan muntah dapat berlangsung berbulan-bulan. Hyperemesis Gravidarum merupakan komplikasi mual dan muntah pada kehamilan muda bila terjadi terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkosis hipokeremik disamping pengaruh hormonal (Winkjosastro, 2005: 276).
2.1.5  Gejala dan Tanda Hyperemesis Gravidarum
Batas jelas antara mual dan muntah yang masih fisiologik dalam kehamilan dengan Hyperemesis Gravidarum.
Menurut gejala-gejala Hyperemesis Gravidarum dapat dibagi menjadi                   3 tingkat :
1.      Tingkat I
Muntah terus-menerus yang mempengaruhi keadaan penderita, ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan merasa nyeri pada epigastrium. Nadi meningkat sekitar 100 per menit, sistol menurun, turgor kulit mengurang, lidah mengering dan mata cekung.
2.      Tingkat II
Penderita tampak lebih lemas dan apatis, turgor kulit mengurang, dan lidah mengering tampak kotor, berat badan menurun, mata cekung, tensi turun aseton dapat tercium dari aroma pernafasan, karena mempunyai aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam kencing.
3.      Tingkat III
Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dan samnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat, suhu meningkat dan tensi menurun. Komplikasi patal terjadi pada susunan syaraf yang dikenal sebagai ensepalopati wernicke, dengan gejala : nistagmus, diplopia dan perubahan mental hal ini diperhatikan karena sangat kekurangan zat-zat makanan, termasuk vitamin B komplek.
(Winkjosastro, 2005: 277)
2.1.6  Diagnosis
Dari anamnesis didapatkan amenore, tanda kehamilan muda dan muntah terus-menerus pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan pasien lemah, apatis sampai koma, nadi meningkat sampai 100 x/m, suhu meningkat, dan tekanan darah menurun dan ada tanda dehidrasi (Mansjoer, 2001: 260).
2.1.7  Pencegahan Hyperemesis Gravidarum
Pencegahan terhadap Hyperemesis Gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik, memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan gejala fisiologik pada kehamilan mudah dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan, menganjurkan mengubah pola makan sehari-hari dengan porsi kecil tetapi lebih sering, waktu bangun pagi jangan langsung turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat, makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindari. Makanan dan minuman sebaiknya disajikan dalam keadaan panas atau hangat dingin. Menghindarkan karbonhidrat merupakan faktor yang penting, oleh karenanya dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula (Wiknjosastro, 2005: 278).
2.1.8  Penanganan
Prinsip pencegahan Hyperemesis Gravidarum dengan memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses fisiologik, memberikan keyakinan bahwa mual muntah merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan, mengubah porsi makan dengan jumlah kecil, tetapi lebih sering dianjurkan makan roti kering atau biskuit dengan teh manis hangat, jauhi makan banyak minyak atau berbau lemak, sebaiknya makanan atau minuman disajikan dalam keadaan panas atau hangat dingin. Oleh karena itu anjurkan makanan yang banyak mengandung gula (Winkjosastro, 2005: 278).
Apabila cara di atas keluhan dan gejala tidak berkurang maka diperlukan pengobatan, tetapi tidak memberikan obat yang teratogen sedativa yang sering diberikan adalah phenobarbital. Vitamin yang dianjurkan adalah B1 dan B6 anti histaminika juga dianjurkan seperti dramamin, avomin penanganan Hyperemesis Gravidarum yang berat perlu dikelola di rumah sakit (Prawirohardjo, 2005: 278).
2.1.9  Penatalaksanaan Hyperemesis Gravidarum
Pengobatan yang baik pada Emesis Gravidarum sehingga dapat mencegah Hyperemesis Gravidarum, tapi bila keadaan muntah berlebihan dan dehidrasi ringan penderita sebaiknya dirawat, dengan konsep pengobatan yang dapat diberikan sebagai berikut :
a.       Isolasi
Penderita disendirikan dalam kamar yang terang, tetapi cerah dan peredaran udara yang baik, alat cairan yang keluar masuk hanya dokter dan perawat yang boleh masuk ke dalam kamar penderita sampai muntah berhenti dan penderita mau makan, kadang-kadang dengan isolasi saja gejala akan berkurang tanpa pengobatan.
b.      Terapi Psikologik
Perlu diyakinkan kepada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, berikan pengertian bahwa kehamilan adalah suatu hal yang wajar, normal dan fisiologis jadi tidak perlu takut dan khawatir, hilangkan rasa takut karena kehamilan, kurangi pekerjaan serta hilangkan masalah dan konflik yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.
c.       Cairan Parenteral
Setelah diagnosis dipastikan penderita diberikan cairan parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein glukosa 5% dalam cairan garam fisiolgis sebanyak 2-3 liter sehari.
Selanjutnya diberikan kalium dan vitamin khususnya vitamin              B kompleks dan vitamin C, bila kekurangan protein dapat diberikan asam amino secara intravena. Dibuat daftar kontrol cairan yang masuk dan keluar, air kencing perlu diperiksa terhadap protein, asetion, khorida dan bilirubin, suhu nadi perlu diperiksa setiap 4 jam, tekanan darah 3 x sehari. Dilakukan pemeriksaan hemaltrokrit pada permulaan dan seterusnya menurut keperluan. Bila dalam 24 jam pertama penderita tidak muntah dan keadaan umum bertambah baik dapat dicoba untuk memberikan minuman dan lambat laun minuman dapat ditambah dengan makanan yang tidak cair.

d.      Menghentikan Kehamilan
Pada sebagian kecil terapi tersebut diatas keadaan penderita tidak bertambah baik, bahkan mundur, di Uresis tidak bertambah malahan berkurang, asetunuria tetap ada, nadi bertambah cepat dan suhu menaik. Dalam keadaan demikian perlu pertimbangan untuk mengakhiri kehamilan, keputusan untuk melakukan abortus terapeutik sering sulit diambil oleh karena itu di satu pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat, tetapi dilain pihak tidak boleh menunggu sampai terjadi gejala, reversibel pada organ vital.
2.1.10 Prognosis
Dengan penanganan yang baik prognosis Hyperemesis Gravidarum sangat memuaskan. Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri, namun demikian pada tingkat yang berat, penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin (Wiknjosastro, 2005: 279).
2.2        Faktor-faktor yang Diteliti berhubungan dengan Kejadian Hyperemesis Gravidarum
2.2.1  Paritas
Mual dan muntah terjadi pada 60-80% primigravida dan 40-60% multigravida. Jumlah kehamilan 2-3 (multi) merupakan paritas yang paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal (Winkjosastro, 2006).
Penyebab hyperemesis belum diketahui secara pasti. Telah diketahui beberapa faktor prodisposisi terjadinya Hyperemesis Gravidarum yaitu wanita hamil dengan anemia, primigravida, kehamilan ganda dan molahidatidosa (Setiawan, 2006).
2.2.2  Umur Ibu
Hamil pada usia muda merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya Hyperemesis Gravidarum. Dalam kurun waktu reproduksi sehat bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun. Kematian maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada usia di bawah 20 tahun ternyata 2-3 kali lebih tinggi daripada kematian yang terjadi pada usia 20-29 tahun. Kematian maternal meningkat kembali sesudah usia 30-35 tahun. Hal ini disebabkan menurunnya fungsi organ reproduksi wanita (Winkjosastro, 2005).
2.2.3  Pendidikan
Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku terhadap pola hidup dalam memotivasi untuk siap berperan serta dalam perubahan kesehatan. Rendahnya pendidikan seseorang makin sedikit keinginan untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan, dan sebaliknya makin tingginya pendidikan seseorang, makin mudah untuk menerima informasi dan memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada (Rahmadewi, 2002: 219).
Pendidikan merupakan faktor predisposisi adalah faktor yang ada dalam individu seperti pengetahuan, sikap terhadap kesehatan serta tingkat pendidikan. Dimana untuk berprilaku kesehatan misalnya (pemeriksaan kesehatan bagi ibu hamil) diperlukan pengetahuan tengang manfaat periksa hamil, baik bagi kesehatan ibu sendiri maupun bagi janinnya (Sumijatun, dkk, 2006: 122).

No comments:

Post a Comment

Bidan dan Perawat

Google+ Followers