Sunday, March 24, 2013

HUBUNGAN ANTARA PEKERJAAN DAN PARITAS IBU DENGAN KEJADIAN KPSW DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG TAHUN 2007


BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang

Angka kematian maternal di negara-negara maju berkisar antara 5-10 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan di negara-negara yang sedang berkembang berkisar antara 750-1.000 per 100.000 kelahiran hidup (Winkjosastro, 2005).
Target Angka Kematian Ibu (AKI) Milennium Development Goal (MDG) yang ditetapkan Word Health Organization (WHO) sebesar 102/100.000 kelahiran hidup, dan angka kematian bayi baru lahir (AKBBL) di Indonesia yang ditetapkan WHO yaitu sebesar 15/1.000 kelahiran hidup. Sementara AKI dan AKBBL saat ini di Indonesia jauh dari target yang harus dicapai pada tahun 2015 sesuai dengan kesepakatan sasaran pembangunan millenium. Sedangkan hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002 dan 2003, AKI             di Indonesia menunjukkan 307/100.000 kelahiran hidup dan AKBBL di Indonesia mencapai 35/1.000 kelahiran hidup. Hal tersebut menunjukkan AKI dan AKBBL jauh di atas target WHO. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi kematian ibu dan bayi adalah kemampuan dan keterampilan penolong persalinan. Tahun 2006, cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di Indonesia masih sekitar 76%, artinya masih banyak pertolongan persalinan yang dilakukan oleh dukun bayi dengan cara tradisional yang dapat membahayakan (Supari, 2007).
Tingkat Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN. Pada tahun 1994, AKI di Indonesia sebesar 390/100.000 kelahiran hidup. Tahun 1995 menurun menjadi 373/100.000 kelahiran hidup (SDKI). AKI propinsi Sumatera Selatan berdasarkan laporan indikator database 2005 UNFPA 6th Country Program adalah 467 per 100.000 kelahiran, lebih tinggi dari AKI kota Palembang sebesar 317 per 100.000 kelahiran. Jumlah kematian ibu tahun 2006 di kota Palembang sebanyak 15 orang dengan penyebab yaitu eklampsia, hemoerogie post partum, Ca pharing, Stroke, gagal ginjal, placenta acreta, emboli air ketuban, post secio sesaeria, kelainan jantung dan lain-lain (Dinkes, 2006).
Menurut Data Dinas Kesehatan (2006), tentang data kesehatan Propinsi Sumatera Selatan terdapat Angka Kematian Ibu (AKI) 0,46% dari 467 per 100.000 kelahiran hidup, terbukti dari data kesehatan di atas AKI Sumsel lebih tinggi dari AKI Nasional, penyebab AKI di Sumsel tahun 2006 yaitu perdarahan 61,7%, infeksi 23,4%, eklampsia12,9% dan lain-lain 2% sedangkan jumlah kematian ibu yang disebabkan oleh infeksi karena KPSW tercatat 11 orang dari jumlah 47 AKI (23,4%). Pada tahun 2004 tercatat 7 orang dari 60 AKI (11,7%) (Emillia, 2007).
Dari data medical record Instalasi Rawat Inap Kebidanan dan Penyakit Kandungan di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang, pada tahun 2006 (periode 1 Januari-31 Desember) tercatat 153 orang pasien, ketuban pecah sebelum waktunya (5,93%) dari 2.539 jumlah persalinan. Pada umur 15 sampai 24 tahun tercatat 47 orang pasien ketuban pecah sebelum waktunya (1,82%) dan pada umur 25 sampai 44 tahun tercatat 106 orang (Medical Record RSMH, 2006).
Ketuban pecah sebelum waktunya merupakan masalah penting dalam obstetri berkaitan dengan kelahiran premature dan terjadinya infeksi aspeksia, khoiriominitis sampai sepsis yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas (Saifuddin, 2002).
Faktor-faktor yang berhubungan dengan ketuban pecah sebelum waktunya masih belum diketahui penyebabnya secara pasti namun kemungkinan yang menjadi faktor predisposisi adalah infeksi, kelainan letak janin, faktor golongan darah, faktor predisposisi antara kepala janin dan panggul (Disproporsi Kepala Panggul), faktor multigravida, merokok, perdarahan antepartum, defisiensi gizi dan tembaga atau asam ascorbart (vitamin C) (Linux, 2007).
Berdasarkan forum diskusi tentang penyebab air ketuban pecah sebelum waktunya dikarenakan kelelahan ibu dalam bekerja (Monica, 2008).
Dari uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan antara Pekerjaan dan Paritas Ibu dengan Kejadian KPSW di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2007”.

1.2         Rumusan Masalah

Apakah ada hubungan pekerjaan dan paritas ibu dengan kejadian KPSW            di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2007?

1.3         Tujuan Penelitian

1.3.1   Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan pekerjaan dan paritas ibu dengan kejadian KPSW di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang               tahun 2007.
1.3.2   Tujuan Khusus
1.      Diketahuinya hubungan antara pekerjaan ibu dengan kejadian KPSW            di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang            tahun 2007.
2.      Diketahuinya hubungan antara paritas ibu dengan kejadian KPSW               di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang            tahun 2007.

1.4         Manfaat Penelitian

1.4.1   Bagi Instansi Kesehatan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi saran atau masukan informasi bagi Instansi Kesehatan dalam rangka peningkatan program pemeriksaan ibu hamil yang mengalami ketuban pecah sebelum waktunya di Rumah Sakit Umum Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2007.
1.4.2   Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah bahan kepustakaan dan pengetahuan yang berguna bagi Mahasiswa Diploma III Budi Mulia Palembang.
1.4.3   Bagi Peneliti
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi peneliti dan dapat secara langsung menerapkan ilmu yang telah didapat selama masa pendidikan khususnya yaitu mengenai ilmu metodelogi penelitian dan biostatistik.

1.5         Ruang Lingkup

Pada penelitian ini penulis mencoba membatasi untuk meneliti dua variabel yang berhubungan dengan kejadian KPSW, yaitu faktor pekerjaan dan paritas ibu di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2007.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1         Konsep Dasar Ketuban Pecah Sebelum Waktunya
2.1.1   Defenisi
Ketuban Pecah sebelum waktunya adalah ketuban yang pecah spontan             yang terjadi pada sembarang usia kehamilan sebelum persalinan dimulai (William, 2001: 80). Sedangkan menurut (Mansjoer, 2001: 310) ketuban pecah sebelum waktunya adalah pecahnya selaput ketuban sebelum ada tanda-tanda persalinan dan menurut (Manuaba, 2004: 72) ketuban pecah sebelum waktunya adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalianan, dan ditunggu satu jam sebelum dimulainya tanda persalinan. Pecah ketuban yang terjadi sebelum nyeri persalinan disebut ketuban pecah sebelum waktunya (KPSW) atau Ketuban Pecah Dini (KPD) (Sugi, 2007).
2.1.2   Etiologi
Walaupun banyak publikasi tentang KPD, namun penyebabnya masih belum diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti. Beberapa faktor yang kemungkinan menjadi faktor predisposisi antara lain :
1.      Infeksi
Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenderen dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban.
2.      Servik inkompetensia, kanalis servikalis yang selalu terbuka oleh karena kelainan pada serviks uteri (akibat persalinan, curetage).
3.      Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan (overditensi uterus) misalnya trauma, hidramnion, gemelli.
4.      Kelainan letak misalnya sungsang sehingga tidak ada bagian terendah yang menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap membran bagian bawah
5.      Keadaan sosial ekonomi.
(Linux, 2007)
2.1.3   Kriteria Diagnosis
1.      Anamnesa
Penderita merasa basah pada vagina atau mengeluarkan cairan yang banyak secara tiba-tiba dari jalan lahir atau ngepyok, cairan berbau khas dan perlu juga diperhatikan warna, keluarnya cairan tersebut his belum teratur atau belum ada, dan belum ada pengeluaran lendir darah.
2.      Inspeksi
Pengamatan dengan mata biasa akan tampak keluarnya cairan dari vagina, bila ketuban baru pecah dan jumlah air ketuban masih banyak, pemeriksaan ini akan lebih jelas.
3.      Pemeriksaan dengan spekulum
Pemeriksaan dengan spekulum pada KPD akan tampak keluar cairan dari orifisium uteri eksternum (OUE), kalau belum juga tampak keluar fundus uteri ditekan, penderita diminta batuk, mengejan atau mengadakan manuvover valsova, atau bagian rendah digoyangkan, akan tampak keluar cairan dari ostium uteri dan berkumpul pada fornik anterior.
4.      Pemeriksaan dalam
Didapat cairan di dalam vagina dan selaput ketuban sudah tidak ada lagi, mengenai pemeriksaan dalam vagina dengan toucher perlu dipertimbangkan, pada kehamilan yang kurang bulan yang belum dalam persalinan tidak perlu diadakan pemeriksaan dalam, karena pada waktu pemeriksaan dalam dari pemeriksa akan mengkumulasi segmen bawah rahim dengan flora vagina yang normal.
5.      Pemeriksaan penunjang
a.       Pemeriksaan laboratorium
Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa : warna, kosentrasi, bau, dan PH nya, secret vagina ibu hamil PH : 4-5 dengan kertas nitrazin tidak berubah warna tetap kuning.
b.      Tes lakmus (tes nitrazin)
Jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru menunjukkan adanya air ketuban (alkalis), PH air ketuban 7-7,5, darah dan infeksi vagina dapat menghasilkan tes yang positif.
c.       Mikroskopik (tes pakis)
Dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek dan dibiarkan kering. Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran daun pakis.
d.      Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum uteri (Linux, 2007).

2.1.4   Manipestasi Klinik
1.      Keluar air ketuban warna putih keruh, jernih, bening, hijau atau kecoklatan sedikit-sedikit atau sekaligus banyak.
2.      Dapat disertai demam bila sudah ada infeksi.
3.      Janin mudah diraba.
4.      Pada periksa selaput ketuban tidak ada, air ketuban sudah kering.
5.      Inspekulo : Tampak air ketuban mengalir atau selaput ketuban tidak ada dan air ketuban sudah kering (Mansjoer, 2001 : 310).
2.1.5   Pemeriksaan Penunjang
1.      Pemeriksaan leukosit darah : > 15.000/u bila terjadi infeksi.
2.      Tes lakmus  merah berubah menjadi biru.
3.      Ammosintesis
4.      USG : Menentukan usia kehamilan, indeks cairan ammion berkurang (Mansjoer, 2001 : 313).
2.1.6   Penatalaksanaan
Ketuban pecah sebelum waktunya merupakan sumber persalinan prematuritas, infeksi dalam rahim terhadap ibu maupun janin yang cukup besar dan potensif. Oleh karena itu tatalaksana ketuban pecah sebelum waktunya memerlukan tindakan yang rinci sehingga dapat menimbulkan kejadian persalinan prematuritas dan infeksi dalam rahim. Memberikan profilaksis antibiotika dan membatasi pemeriksaan dalam merupakan tindakan yang perlu diperhatikan.
Gambaran umum tatalaksana ketuban pecah sebelum waktunya :
·         Mempertahankan kehamilan sampai cukup matur khususnya motaritas paru sehingga mengurangi kejadian kegagalan perkembangan paru yang sehat.
·         Dengan perkiraan janin sudah cukup besar dan persalinan diharapkan berlangsung dalam waktu 72 jam dapat diberikan kortikosteroid, sehingga kematangan janin dapat terjamin (Manuaba, 1998).
2.1.7   Penanganan
Penanganan umum menurut (Saifuddin, 2002)
1.      Melakukan pemeriksaan kehamilan dengan USG.
2.      Lakukan pemeriksaan inspekulo (dengan speculum DTT) untuk menilai cairan yang keluar (jumlah, warna, bau) dan dapat membedakan dengan urine.
3.      Apabila ibu mengeluh perdarahan pada akhir kehamilan (setelah                   22 minggu), jangan lakukan pemeriksaan dalam secara digital.
4.      Tentukan ada tidaknya infeksi.
5.      Tentukan tanda-tanda inpartu.
Menurut (Saifuddin, 2001: 219) penanganan ketuban pecah sebelum waktunya adalah :
A.    Konservatif
1.      Rawat di rumah sakit.
2.      Berikan antibiotika ampisilin 4 x 500 mg atau eritromin bila tak tahan ampisilin dan metronidazol 2 x 500 mg selama 7 hari.
3.      Jika umur kehamilan 32-37 minggu, dirawat selama air ketuban masih keluar, atau sampai air ketuban tidak keluar lagi.
4.      Jika usia kehamilan 32-37 minggu, belum inpartu tidak ada infeksi, tes busa negatif : beri dexametason, observasi tanda-tanda infeksi, dan kesejahteraan janin, terminasi pada kehamilan 37 minggu.
5.      Jika usia kehamilan 32-37 minggu, sudah inpartu, tidak ada infeksi berikan tokolitik (salbutamol), dexametason, dan induksi sesudah 24 jam.
6.      Jika usia kehamilan 32-37, ada infeksi, beri antibiotik, dan lakukan induksi.
7.      Jika tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit, tanda-tanda infeksi intrauterin).
8.      Pada usia kehamilan 32-34 minggu berikan streoid, untuk memacu kematangan paru janin, dan kalau kemungkinan periksa kadar lesitin dan spingomielin tiap minggu. Dosis betametason 12 mg sehari dosis tunggal selama 2 hari, dexametason im 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 kali.
B.     Aktif
1.      Kehamilan > 37 minggu, induksi dengan oksitosin, bila gagal seksio sesarea.
2.      Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotik dosis tinggi, dan akhiri dengan persalinan :
a.       Bila skor pelvik < 5, lakukan pemotongan serviks, kemudian induksi. Jika tidak berhasil, akhiri persalinan dengan seksio sesarea.
b.      Bila skor pelvik > 5, induksi persalinan, partus pervaginam.
2.1.8  

Ketuban Pecah Dini
 
Tatalaksanaan Penanganan
Masuk rumah sakit
·         Antibiotik
·         Batasi pemeriksaan dalam
·         Pemeriksaan air ketuban, luntur, dan bakteri
·         Observasi tanda infeksi dan distres janin
·         Bidan merujuk ke RS / puskesmas
 



Kehamilan Aterm
 
Hasil Prematur
·         Obervasi
-          Suhurektal
-          Bisttres
·         Kartikosteroid
 
Kelainan Obstetri
·         Bistres Janin
·         Letak sungsang
·         Letak lintang
·         CPD
·         Bed obstetric hyst
·         Grandemultipora
·         Infertilitas
·         Persalinan obstruktif
 

Letak Kepala
 
                                                                                                                                   

Indikasi Induksi
·         Infeksi
·         Waktu
 


Berhasil 
·         Persalinan Vaginam
 
Gagal
·         Reaksi uterus tak ada
·         Kelainan letkep
·         Fase laten dan aktif memandang
·         Bistres janin
·         Ruptura uteri iminens
·         Ternyata CPD
 

Sectio Cesarea
 

Manuaba, 2004.
2.2         Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Ketuban Pecah Sebelum Waktunya yang akan Deteliti
1.      Pekerjaan
Indikator dan parameter diperlukan untuk mempelajari dan mengetahui perubahan-perubahan demografik. Indikator yang baik harus dapat memberi isyarat atau gejala tentang sesuatu yaitu dapat berupa proses yang sedang berlangsung maupun peristiwa. Adapun indikator demografik tersebut yaitu salah satunya ibu hamil yang harus mengurangi pekerjaannya serta menghilangkan masalah dan konflik yang dapat menyebabkan ketuban pecah sebelum waktunya (Wiknjosastro, 2005).
Status pekerjaan responden dalam penelitian dibagi menjadi dua yaitu responden bekerja dan tidak bekerja. Definisi bekerja dalam penelitian ini adalah responden melakukan kegiatan di rumah atau tempat lain secara rutin atau berkala dengan tujuan mendapatkan uang (Sunarti, 2007).
Setiap manusia yang hidup harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dan tidak dapat lepas dari pekerjaan baik pekerjaan ringan maupun berat. Begitu juga dengan ibu yang sedang hamil harus bekerja walaupun pekerjaan itu ringan harus tetap dikerjakan misalnya mengerjakan            pekerjaan rumah tangga. Berdasarkan hasil forum diskusi tentang penyebab air ketuban pecah sebelum waktunya dikarenakan kelelahan ibu dalam bekerja (Monica, 2008).
Pada trimester pertama berlangsung sejak wanita dinyatakan positif hamil sampai 12 minggu, merupakan usia kehamilan yang paling rawan terutama sebelum usia kehamilannya mencapai 8 minggu, sebaiknya tidak terlalu banyak melakukan aktivitas tetapi kondisi setiap ibu hamil memang berbeda-beda ada yang kuat ada juga yang lemah. Kembali lagi pada kondisi masing-masing hanya dikhawatirkan apabila ibu hamil banyak melakukan aktivitas akan kelelahan. Akibat kelelahan biasanya timbul keluhan berupa sakit perut bagian bawah atau kontraksi yang bisa menyebabkan ketuban pecah sebelum waktunya (KPSW). (Roza, 2007).
2.      Paritas
Paritas adalah jumlah frekuensi ibu melahirkan paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal. Paritas tinggi multigravida (jumlah anak lebih dari tiga) mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi, lebih tinggi paritas lebih tinggi kematian maternal pada kasus KPSW (Winkjosastro, 2005).
Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut yang dapat mengakibatkan kematian maternal. Paritas satu dan tinggi (lebih dari tiga) merupakan penyebab angka kematian maternal lebih tinggi. Pada paritas yang rendah (paritas satu), ketidaksiapan ibu dalam menghadapi persalinan yang pertama merupakan faktor penyebab ketidakmampuan ibu hamil dalam menangani komplikasi yang terjadi selama kehamilan, persalinan dan nifas termasuk didalamnya komplikasi ketuban pecah sebelum waktunya. (FKUI, 2007)
Berdasarkan kelompok ketuban pecah sebelum waktunya yang mendapat penanganan secara konservatif dan aktif. Pada kelompok primigravida penanganan koservatif lebih banyak 21 dibandingkan penanganan aktif yaitu 9 (Handayani, 2007).
Faktor-Faktor lain yang Berhubungan dengan Ketuban Pecah Sebelum Waktunya
a.       Faktor golongan darah
Akibat golongan darah ibu dan anak yang tidak sesuai dapat menimbulkan kelemahan bawaan termasuk kelemahan jaringan kulit ketuban.
b.      Faktor disproporsi antara kepala janin dan panggul ibu (DKP).
c.       Defisiensi gizi dari tembaga atau asam askorbat (vitamin C).
(Linux, 2007)

No comments:

Post a Comment

Bidan dan Perawat

Google+ Followers