Wednesday, May 22, 2013

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI SUNTIK DI PUSKESMAS DEMPO PALEMBANG TAHUN 2011


BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Kontrasepsi adalah usaha-usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan, usaha-usaha itu dapat bersifat sementara, dapat juga bersifat permanen, yang bersifat permanen ini dinamakan pada wanita tubektomi dan ada pria vasektomi (Prawirohardjo, 2008).

Menurut World Health Organization (WHO) Keluarga Berencana (KB) adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk mendapatkan objektif tertentu, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan dan mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan suami istri (Suparyanto, 2010).
Menurut United National Found Population (UNFPA) pada tahun 1989, penduduk dunia telah mencapai 5,2 milyar kemudian tiap tahunnya meningkat lebih dari 90 juta jiwa. Oleh karena itu, diperlukan cara penanggulangannya yang sekarang dikenal dengan Keluarga Berencana (Sarwono, 2007).
Perhatian yang diberikan terhadap tingginya angka kematian perinatal yang dijelaskan dalam pertemuan di Alma Ata yang diselenggarakan oleh WHO dan UNICEF tahun 1978 disepakati untuk menetapkan konsep Primary Health Care yang memberikan pelayanan antenatal, persalinan bersih dan aman, melakukan upaya penerimaan keluarga berencana, dan meningkatkan pelayanan rujukan (Handayani, 2010).
Di Amerika Serikat metode kontrasepsi suntik telah disetujui untuk digunakan pada akhir tahun 1992. Metode kontrasepsi yang disuntikan, Depot Medroksi Progesteron Asetat (DMPA) juga telah digunakan di seluruh dunia selama lebih dari 20 tahun. Kontrasepsi jenis hormonal ini memberikan perlindungan selama tiga bulan. Wanita yang memakai kontrasepsi suntik di Amerika sebanyak 5.178 akseptor. Pada awal bulan di Amerika Serikat pemakaian KB suntik hanya 57% namun di bulan ketiga pemakai KB suntik meningkat menjadi 63% dan mereka melanjutnya untuk menerima suntikan yang berikutnya sebesar 75 – 80% pemakai KB suntik (Dokter sehat, 2007).
Secara keseluruhan pemakaian kontrasepsi jauh lebih tinggi di negara maju dibandingkan dengan negara berkembang (70% berbanding 40%). Negara maju terutama menggunakan kontrasepsi obat, kondom, misalnya pada metode sawar vagina dan keluarga berencana alami dibandingkan dengan negara-negara berkembang yang lebih mengandalkan sterilisasi wanita dan AKDR (Hartanto, 2006).
Dari data yang diperoleh pada tahun 2007 penduduk di Indonesia berjumlah 224 juta jiwa, akan tetapi jika tingkat pemakaian alat kontrasepsi tetap 60% maka penduduk Indonesia menjadi 255,5 juta jiwa. Dari data tersebut angka kelahiran di Indonesia masih tinggi diperkirakan pada tahun 2015 penduduk di Indonesia mencapai 300 juta jiwa, hal ini memerlukan peranan pemerintah untuk menekan jumlah pertumbuhan penduduk. Salah satunya upaya yang bisa dilakukan pemerintah yaitu mencanangkan program keluarga berencana (KB) guna menekan jumlah penduduk (Pitoyo, 2010).
Berdasarkan Hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2009 menyebutkan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) tahun 2009 sebesar 226 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini turun dibandingkan AKI tahun 2007 yang mencapai 228 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI, 2009).
Indonesia juga tidak luput dari masalah kependudukan secara garis besar diperkirakan sekitar 224,9 juta dan merupakan keempat terbanyak di dunia, penggunaan pil menurun dari 17% pada tahun 1991 menjadi 10,1 pada tahun 2007. Pada tahun 2009 kontrasepsi yang sedang digunakan yaitu masing-masing sebesar KB suntik 50,2% dan KB pil 2,8% masih banyak diminati sebagai alat KB oleh pasngan usia subur yaitu sebaiknya Metode Operasi Pria (MOP) dan Metode Operasi Wanita (MOW) merupakan metode kontrasepsi yang terendah diminati para akseptor KB (BKKBN, 2009).
Menurut Kepala Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (BKBPP), program KB yang berjalan sejak tahun 1970 belum memperlihatkan dampak bermakna terhadap penurunan pertumbuhan penduduk. Hal ini disebabkan karena sebagian ibu-ibu mengeluh tidak mau mengikuti program KB karena mengeluarkan biaya yang cukup mahal. Adapun cara penanggulangannya yang sudah dilakukan oleh Kepala BKBPP yaitu dengan cara memberikan pelayanan kontrasepsi gratis kepada masyarakat miskin melalui puskesmas maupun klinik, hal tersebut dilakukan guna mengurangi kepadatan penduduk di Indonesia (Darwanto, 2009).
Oleh karena itu peran bidan dalam pelayanan program KB sangat dibutuhkan yaitu salah satunya melakukan penyuluhan tentang program KB sehingga memotivasi masyarakat untuk ikut ber-KB. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi terjadinya kepadatan penduduk yang diakibatkan kelahiran yang cukup tinggi. Tidak cukup disitu saja bidan harus bisa melakukan konseling yang baik dalam pemberian pelayanan kontrasepsi, dalam hal ini berarti petugas membantu klien dalam memilih dan memutuskan jenis kontrasepsi yang sesuai dengan pilihan sehingga klien merasa lebih puas serta akan membantu klien dalam menggunakan kontrasepsinya lebih lama sehingga dapat meningkatkan keberhasilan program KB (Saifuddin, 2006).
Menurut hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 saat ini menyebutkan sebanyak 39% wanita Indonesia usia produktif yang tidak menggunakan kontrasepsi dengan jumlah 40% di pedesaan dan 37% di perkotaan. Dari 61,4% pengguna metode kontrasepsi di Indonesia sebanyak 31,6 menggunakan suntik sedangkan yang memakai pil hanya 13,2 %, memakai Intra Uterine Device (IUD) atau spiral 4,8%, implant 2,8% dan kondom 1,3 %, sisanya vasektomi dan tubektomi (Darwanto, 2009).
Di Provinsi Sumatera Selatan kini menduduki peringkat ke-12 dari 32 provinsi di Indonesia dalam menekan angka kelahiran di setiap tahunnya. Setidaknya kedepan Sumatera Selatan  mampu menduduki peringkat ke enam untuk skala nasional. Hal itu bertujuan untuk membantu meningkatkan ranking Indonesia yang kini menduduki peringkat 107 dunia dalam menekan angka kelahiran. Untuk mewujudkan hal tersebut, Pemprov SUMSEL melalui Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) akan menggalakkan lagi program KB di lapangan (Sumsel.Bkkbn, 2009).
Dalam satu tahun ini upaya yang dilakukan oleh BKKBN SUMSEL yaitu melayani 160.000 peserta KB suntik, dari data BKKBN selama tahun 2009 jumlah peserta KB wanita mencapai 342.000 orang, dimana 320.000 diantaranya adalah peserta KB pria, diharapkan tahun 2010 akan terjadi penambahan peserta KB baru sampai 150.000 orang (Sumsel.Bkkbn, 2009).
Peserta Keluarga Berencana (KB) di Sumatera Selatan terus mengalami peningkatan terbukti sampai Oktober 2008 tercatat sebanyak 275.289 akseptor baru dari Perkiraan Permintaan Masyarakat (PPM) 313.150 peserta sampai kini tercatat sebanyak 1.419.345 keluarga yang masuk dalam kategori pasangan usia subur 976.600 merupakan peserta KB aktif, sebagian besar akseptor menggunakan alat kontrasepsi pil sebanyak 322.162, akseptor implan sebanyak 275.827, IUD sebanyak 45.573, tubektomi sebanyak 41.399 dan kondom sebanyak 25.388 serta vasektomi sebanyak 4.392 peserta (Susanto, 2008).
Dari analisis pendataan keluarga oleh Dinas Kesehatan Kota Palembang, pada tahun 2008 penduduk usia balita di Kota Palembang meningkat mencapai 4,2% sedangkan di tahun 2007 hanya 3,47%. Hal tersebut diduga karena menurunnya partisipasi masyarakat dalam ber-KB, dapat dilihat dari hasil pendataan pasangan usia subur yang memakai KB suntik pada tahun 2007 sebanyak 1.087 PUS dan menurun menjadi 1.073 PUS pemakai kontrasepsi pada tahun 2008 atau menurun 14 PUS dari jumlah tersebut. Oleh sebab ibu, menurunnya partisipasi masyarakat dalam ber-KB harus diantisipasi dengan terus melakukan sosialisasi tentang pentingnya warga mengikuti program KB (Dinkes, 2009).
Berdasarkan data yang ada pada Puskesmas Dempo Palembang Tahun 2010, dari jumlah pasangan usia subur yang ada di wilayah kerja Puskesmas Dempo tersebut akseptor KB aktif yang mendapatkan pelayanan KB di Puskesmas Dempo terdapat akseptor KB suntik sebesar (69,95%), pil (22%), kondom (8,9%), implant (1,15%).
Dari data yang didapatkan dari Puskesmas Dempo Palembang tahun 2011 bahwa dari 40 responden ibu yang memakai kontrasepsi suntik sebanyak 30 responden (75%), sedangkan yang memakai kontrasepsi selain suntik sebanyak 10 responden (25%).
Penggunaan kontrasepsi cenderung meningkat sejalan dengan meningkatnya umur, mencapai puncak pada kelompok umur (20-34) dan kembali turun setelahnya. Penurunan penggunaan pada umur setelah 35 tahun disebabkan oleh frekuensi kumpul yang semakin berkurang efektivitas alat sudah habis dan tidak memasang kembali (Tukiran, 2010).
Beberapa faktor yang berhubungan dengan penggunaan kontrasepsi antara lain umur, jumlah anak yang telah di miliki, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, status desa kota dan pengetahuan (Agus, 2010).
Berdasarkan data diatas dapat dilihat KB suntik termasuk kontrasepsi yang digemari oleh masyarakat karena mudah didapat dan memiliki daya efek samping yang rendah, serta mempunyai banyak manfaat oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai alat kontrasepsi suntik dengan judul "Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi Suntik di Puskesmas Dempo Palembang Tahun 2011"
1.2    Rumusan Masalah
Faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan pemakaian alat kontrasepsi suntik di Puskesmas Dempo Palembang Tahun 2011 ?

1.3    Tujuan Penelitian
1.3.1        Tujuan Umum
Diketahuinya faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan pemakaian alat kontrasepsi suntik di Puskesmas Dempo Palembang Tahun 2011.
1.3.2        Tujuan Khusus
1.      Diketahuinya distribusi frekuensi pemakaian alat kontrasepsi suntik di Puskesmas Dempo Palembang tahun 2011.
2.      Diketahuinya Distribusi frekuensi hubungan usia dengan pemakaian alat kontrasepsi suntik di Puskesmas Dempo Palembang tahun 2011.
3.      Diketahuinya distribusi frekuensi hubungan paritas dengan pemakaian alat kontrasepsi suntik di Puskesmas Dempo Palembang tahun 2011.
4.      Diketahuinya distribusi frekuensi hubungan tingkat pendidikan dengan pemakaian alat kontrasepsi suntik di Puskesmas Dempo Palembang tahun 2011.
5.      Diketahuinya hubungan usia  dengan pemakaian alat kontrasepsi suntik di Puskesmas Dempo Palembang tahun 2011.
6.      Diketahuinya hubungan paritas dengan pemakaian alat kontrasepsi suntik di Puskesmas Dempo Palembang tahun 2011.
7.      Diketahuinya hubungan tingkat pendidikan dengan pemakaian alat kontrasepsi suntik di Puskesmas Dempo Palembang tahun 2011.

1.4    Manfaat Penelitian
1.4.1        Bagi Peneliti
Diharapkan hasil penelitian dapat menambah pengetahuan dan menerapkan ilmu dan dapat dijadikan dasar-dasar untuk penelitian selanjutnya.
1.4.2        Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi (kepustakaan), memberikan informasi, pengetahuan dalam proses belajar mengajar bagi Mahasiswi Akademi Kebidanan Budi Mulia Palembang.
1.4.3        Bagi Institusi Kesehatan
Hasil penelitian dapat digunakan sebagai masukan dalam upaya meningkatkan serta dapat bermanfaat untuk pembuatan dan perencanaan program KB di Puskesmas Dempo Palembang tahun 2011.  

1.5    Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah :
a.       Subjek Penelitian       : Ibu-ibu yang memakai alat kontrasepsi hormonal di Puskesmas Dempo Palembang.
b.      Lokasi Penelitian       :  Puskesmas Dempo Palembang.
c.       Waktu Penelitian       :  Juni 2011.

No comments:

Post a Comment

Bidan dan Perawat

Google+ Followers