Wednesday, May 22, 2013

HUBUNGAN ANTARA ANEMIA DAN KEBIASAAN MEROKOK PADA IBU HAMIL DENGAN KEJADIAN BBLR DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG TAHUN 2010


BAB I
PENDAHULUAN
1.1      Latar Belakang
Secara global dikemukakan bahwa terdapat 4 juta kematian neonatus. Hampir 99% kematian tersebut terjadi di negara berkembang. Kematian tertinggi di Afrika yaitu 88 per 1.000 kelahiran. Bayi kurang bulan dan berat badan lahir rendah adalah 1 dari 3 penyakit utama kematian neonatus tersebut (Rahayu, 2009).

Prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dan lebih sering di negara-negara berkembang atau sosial ekonomi rendah. Angka kematiannya 35 kali lebih tinggi dibandingkan pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2.500 gram  (Pantiawati, 2010).
Menurut World Health Organization (WHO) 1961, istilah prematur baby dengan “low birth weight baby” (bayi dengan berat lahir rendah : BBLR). Hal ini dilakukan karena tidak semua bayi dengan berat kurang dari 2500 gram pada waktu lahir bayi prematur. Keadaan disebabkan oleh masa kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat yang sesuai mall for gestational age (SGA) yaitu bayi yang beratnya kurang dari berat untuk masa kehamilan (Sarwono, 2005).
Angka kejadian BBLR di Indonesia sangat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain, yaitu berkisar antara 9 – 30%. Hasil studi 7 daerah multicenter diperoleh angka BBLR dengan rentang 2,1% - 17,2%. Secara nasional berdasarkan analisa Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2008, angka BBLR sekitar 7,5% angka ini lebih besar dari target BBLR yang ditetapkan pada sasaran program perbaikan gizi menuju Indonesia sehat 2010 yakni maksimal 7% (Meta, 2008).
BBLR adalah bayi baru lahir yang beratnya saat lahir kurang dari 2.500 gram. Dahulu bayi baru lahir yang berat badan lahir kurang atau sama dengan 2.500 gram disebut prematur (Pantiawati, 2010). 
Di Indonesia, berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002 – 2003, angka kematian neonatal sebesar 20 per 100 kelahiran hidup. Dalam 1 tahun, sekitar 89.000 bayi usia 1 bulan meninggal. Artinya setiap 6 menit ada 1 neonatus meninggal. Penyebab utama kematian neonatus adalah bayi berat lahir rendah (BBLR) sebanyak 29%. Insiden BBLR di Rumah Sakit Indonesia berkisar 20% di Pusat Rujukan Regional Jawa Barat setiap tahunnya antara 20 – 25% kelahiran BBLR, dan Provinsi Jawa Timur, BBLR masih menjadi penyebab kematian neonatal tertinggi pada tahun sebesar 36,23% (Rahayu, 2009).
Bayi berat badan lahir rendah terjadi karena adanya gangguan pertumbuhan bayi sewaktu dalam kandungan yang disebabkan oleh penyakit ibu seperti adanya kelainan plasenta, infeksi, hipertensi dan keadaan-keadaan lain yang mengakibatkan suplay makanan ke bayi jadi berkurang (Mitayani, 2010).
Hasil penelitian Jumirah (1999), menunjukkan bahwa ada hubungan kadar Hb ibu hamil dengan berat badan bayi lahir, dimana semakin tinggi kadar Hb ibu semakin tinggi risiko bayi BBLR yang dilahirkan (Zulhaida, 2008).
Hasil penelitian Roni Universitas Arizona, merokok saat hamil juga memiliki efek negatif lainnya. Berikut ini fakta yang bisa terjadi jika ibu hamil tetap merokok : merokok saat hamil bisa menyebabkan bayi lahir prematur atau berat bayi saat lahir kurang, merokok di dekat bayi yang baru lahir atau saat menyusui termasuk faktor yang membuat bayi berisiko terkena SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) atau sindroma bayi mati mendadak, merokok di dekat anak-anak bisa membuat mereka meniru prilaku tersebut (Rosa, 2010).
Penyebab terjadinya BBLR ada beberapa faktor, faktor ibu yaitu penyakit anemia dengan kondisi kadar Hb berada dibawah normal dan ibu yang perokok berdampak pada pertumbuhan janin (Pantiawati, 2010).
Berdasarkan Data Dinas Kesehatan Sumatera Selatan Tahun 2008, angka kematian ibu (AKI) di Sumatera Selatan berada pada angka 107 per 100.000 kelahiran hidup. Hampir mencapai target sasaran yang akan dicapai Provinsi Sumatera Selatan pada Indonesia Sehat 2010.
Menurut Data Dinas Kesehatan Kota Palembang, angka kematian bayi (AKB) pada tahun 2007 yaitu per 1.000 kelahiran hidup, pada tahun 2008 4 per 1.000 kelahiran hidup dan pada tahun 2009 sekitar 2 per 1.000 kelahiran hidup (Dinkes Kota Palembang, 2010).
Dari data Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang, angka kejadian BBLR pada tahun 2007 adalah 142 kasus BBLR dari 3.337 bayi yang dilahirkan pada tahun 2008 adalah 233 kasus BBLR dari 2.439 bayi yang dilahirkan pada tahun 2009 sebesar 313 kasus BBLR dari 2.400 bayi yang dilahirkan  (Medical Record Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang, 2010).
Berdasarkan data di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan dengan judul “Hubungan antara Anemia dan Kebiasaan Merokok pada Ibu Hamil dengan Kejadian BBLR di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2010”. 

1.2              Rumusan Masalah
Adakah hubungan antara kejadian bayi berat lahir rendah di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2010?

1.3               Tujuan Penelitian
1.3.1         Tujuan Umum
Diketahuinya hubungan antara anemia dan ibu yang kebiasaan merokok dengan kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2010.
1.3.2    Tujuan Khusus
1.      Diketahuinya distribusi frekuensi kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2010.
2.      Diketahuinya distribusi frekuensi anemia di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2010.
3.      Diketahuinya distribusi frekuensi ibu hamil merokok di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2010.
4.      Diketahuinya hubungan ibu anemia dengan kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2010.
5.      Diketahuinya hubungan ibu hamil merokok dengan kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2010.

1.4               Manfaat Penelitian
1.4.1        Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai umpan balik dalam proses belajar mengajar serta dapat menunjang pengetahuan dan wawasan peserta didik serta dapat dilakukan lebih lanjut.
1.4.2        Bagi  Peneliti
Dalam melaksanakan penelitian ini, didapatkan suatu pengalaman dan ilmu pengetahuan tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian berat badan lahir rendah, serta menambah wawasan tentang pemahaman dalam metode penelitian dan menerapkan secara langsung.
1.4.3        Bagi  Instansi Rumah Sakit
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dalam program kesehatan reproduksi untuk menurunkan angka kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan perbaikan mutu pelayanan kebidanan.

1.5              Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini adalah mengenai hubungan anemia dan ibu yang perokok waktu hamil di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2010.

No comments:

Post a Comment

Bidan dan Perawat

Google+ Followers